Showing posts with label situs. Show all posts
Showing posts with label situs. Show all posts

Monday, November 19, 2012

Situs Batu Jaya

sejarah situs batu jaya


Menelusurii saluran irigasi dari sungai Citarum kita bisa menatap sepanjang mata memandang persawahan yang mulai menghijau dengan para petani yang sedang bercocok tanam diiringi kepak sayap burung belibis, bangau serta celoteh bebek yang sedang mencari makan. Pesona Jawa Mengajak teman teman untuk untuk menelusuri jejak peninggalan. situs Batu Jaya komplek candi Buddhistik di pesisir utara Karawang. Kita bisa menyaksikan proses ekskavasi dimana candi yang semula berada di bawah tanah mulai di bersihkan dan di rekontruksi kembali layaknya arkeolog.

Sekilas tentang situs batu Jaya

Situs Batujaya secara administratif terletak di dua wilayah desa, yaitu Desa Segaran, Kecamatan Batujaya dan Desa Telagajaya, Kecamatan Pakisjaya di Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Luas situs Batujaya ini diperkirakan sekitar lima km2. Situs ini terletak di tengah-tengah daerah persawahan dan sebagian di dekat permukiman penduduk dan tidak berada jauh dari garis pantai utara Jawa Barat (pantai Ujung Karawang). Batujaya kurang lebih terletak enam kilometer dari pesisir utara dan sekitar 500 meter di utara Ci Tarum. Keberadaan sungai ini memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap keadaan situs sekarang karen tanah di daerah ini tidak pernah kering sepanjang tahun, baik pada musim kemarau atau pun pada musim hujan.

Situs Batujaya pertama kali diteliti oleh tim arkeologi Fakultas Sastra Universitas Indonesia (sekarang disebut Fakultas Ilmu Budaya UI) pada tahun 1984 berdasarkan laporan adanya penemuan benda-benda purbakala di sekitar gundukan-gundukan tanah di tengah-tengah sawah. Gundukan-gundukan ini oleh penduduk setempat disebut sebagai onur atau unur dan dikeramatkan oleh warga sekitar. Terdapat 17 unur pada lokasi ini, satu diantaranya sudah selesai di ekskavasi yakni Candi Jiwa sedangkan yang dalam tahap ekskavasi hingga artikel ini dibuat dinamakan Candi Blandongan. Unur-unur lain benar-benar masih dalam bentuk gundukan tanah, beberapa diantaranya telah meiliki nama: Serut, Gundul, Damar, Batu Lingga, Lingga dan Lempeng. Kesengajaan membiarkan candi-candi tersebut masih dalam gundukan tanah atau unur, dikarenakan untuk terhindar dari pencurian/perampokan benda-benda cagar budaya oleh masayarakat. Dengan membiarkannya dalam bentuk gundukan tanah, setidaknya akan mempersulit seseorang untuk mengambil benda-benda cagar budaya, karena harus menggali terlebih dahulu.
Selain dalam bentuk candi juga ditemukan pula sebuah sumur tua yang lokasinya tidak jauh dari lokasi Candi Blandongan dan sudah dinaungi cungkup diatasnya. Dibagian lain juga ditemukan sebuah batu pipih besar yang diperkirakan akan dipakai sebagai tempat penulisan prasasasti, namun entah karena faktor apa hingga kini tidak ada satu tulisanpun yang terukir dibatu tersebut. Dugaan yang timbul, mungkin telah terjadi bencana alam atau peperangan, sehingga batu pipih tersebut masih polos dari prasasti/tulisan.

Penanggalan
Berdasarkan analisis radiometri Carbon 14 pada artefak-artefak peninggalan di candi Blandongan, salah satu situs percandian Batujaya, diketahui bahwa kronologi paling tua berasal dari abad ke-2 Masehi dan yang paling muda berasal dari abad ke-12.
Di samping pertanggalan absolut di atas ini, pertanggalan relatif berdasarkan bentuk paleografi tulisan beberapa prasasti yang ditemukan di situs ini dan cara analogi dan tipologi temuan-temuan arkeologi lainnya seperti keramik China, gerabah, votive tablet, lepa (pleister), hiasan dan arca-arca stucco dan bangunan bata banyak membantu.
Misteri
Sebuah cerita misteri ikut mewarnai candi-candi ini. Terdapat peraturan tak tertulis pada lokasi ini bahwa pengunjung dilarang membawa pulang batu-batuan yang merupakan bagian dari badan candi. Terkadang meskipun sudah ada larangan tersebut, masih ada saja pengunjung yang iseng membawa pulang beberapa buah batu untuk dijadikan jimat/penglaris/sarana untuk memajukan usahanya. Namun beberapa hari kemudian pengunjung tersebut kembali lagi kelokasi candi untuk mengembalikan batu yang telah mereka ambil, karena tidak tahan menghadapi "gangguan-gangguan" yang dialaminya. (dari berbagai sumber)

Pernak pernik peninggalan di situs batu jaya


















Situs Cibuaya

Situs Cibuaya

 Situs Cibuaya adalah Situs peninggalan Megalitikum, ini terbukti dengan adanya Batu Lingga yang berdiri tegak diatas susunan batu bata besar berukuran 9 x 9 m, Masyarakat setempat menyebutnya Lemah Duhur Lanang (laki-laki). Sedangkan Yoni yang tersisa hanya Fondasinya saja yang berukuran 6 x 6 m, dan Masyarakat setempat menyebutnya Lemah Duhur Wadon (perempuan).

Dari Situs ini pada Tahun 1952 ditemukan Arca Wisnu bergaya Pala India, diperkirakan dibuat pada Abad 7-8 M dinamakan Arca Wisnu Cibuaya I, Tahun 1972
ditemukan lagi Arca Wisnu dengan motif yang sama namun diperkirakan dari Abad ke 8-10 M dinamakan Arca Wisnu Cibuaya II, dan pada Tahun 1975 ditemukan lagi Arca Wisnu Cibuaya III, kini ke 3 Arca tersebut disimpan di Musium Nasional Jakarta.
Situs Percandian Cibuaya merupakan komplek beberapa bangunan dan tinggalan purbakala di Kecamatan Cibuaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat (koordinat 107°21'25" BT dan 6°5'56" LS) dan secara geografis terletak di daerah Ujung Karawang, berjarak sekitar 6 km dari garis pantai utara Jawa. Daerah ini relatif termasuk dataran rendah dengan ketinggian rata-rata 6 meter di atas permukaan laut. Sebagian besar dataran Cibuaya dimanfaatkan oleh penduduk sebagai lahan pertanian sawah basah dengan teknik irigasi.

Penemuan arca Wisnu dari Desa Cibuaya pada sekitar tahun 1951 (Wisnu 1) dan 1957 (Wisnu 2), serta tahun 1977 (Wisnu 3) merupakan awal ditemukannya Situs Cibuaya. Dengan ditemukannya arca para arkeolog berasumsi tentang adanya bangunan suci dan juga sisa pemukiman masyarakat pendukung bangunan suci tersebut. Laporan penduduk setempat menyatakan adanya suatu gundukan besar yang dianggap angker dan disebut "Lemah Duhur Lanang", yang letaknya tidak jauh dari lokasi penemuan arca Wisnu 1. Lemah duhur ("tanah tinggi") ini ternyata adalah sisa-sisa bangunan yang telah runtuh. Hingga tahun 1993, runtuhan bangunan yang terdapat di Situs Cibuaya seluruhnya berjumlah tujuh buah yang terdapat pada Sektor CBY 1 sampai CBY 6. Dua runtuhan di antaranya terdapat pada Sektor CBY 5 dengan posisi yang saling bersebelahan.

Dari seluruh bangunan candi yang ditemukan di Situs Cibuaya yang paling menarik adalah bangunan candi di Lemah Duhur Lanang. Bangunan yang dibuat dari bata ini berdenah hampir bujursangkar dengan ukuran 9 × 9,6 meter dan tinggi dua meter, menghadap ke arah barat laut dengan tangga berukuran lebar 2,2 meter. Bagian fondasinya dibuat dari pecahan bata yang bercampur dengan kerikil dan batu kali. Di bagian puncak runtuhan bangunan Lemah Duhur Lanang terdapat sebuah lingga yang masih berdiri in-situ. Lingga ini berukuran tinggi 111 cm dan bergaris tengah 40 cm. Bentuk lingganya sendiri bukan merupakan bentuk lingga yang sempurna (lingga semu) karena tidak memiliki bagian yang berdenah segi delapan (wisnubhaga). Bagian yang ada hanya yang berdenah persegi ("brahmabhaga") dan bundar ("rudrabhaga"). Dengan ditemukannya lingga dalam konteksnya dengan bangunan suci dan arca Wisnu yang ditemukan di dekatnya, dapat disimpulkan bahwa bangunan Lemah Duhur Lanang adalah bangunan suci untuk pemeluk agama Hindu.

Bangunan-bangunan lain yang ditemukan di Situs Cibuaya ukurannya lebih kecil, separuh dari ukuran bangunan Lemah Duhur Lanang. Bangunan tersebut adalah CBY 2 dengan ukuran 3,5 × 3,5 meter; CBY 5 dengan ukuran 3,4 × 4,5 meter dan 4,4 × 4,8 meter. Bangunan-bangunan lain telah rusak dan tidak diketahui bentuk dan ukurannya.

Lokasi Situs Cibuaya I terletak di Desa Cibuaya, Kecamatan Pedes 30 km dari Ibu Kota Kabupaten Karawang

Situs Kuta Tandingan

SITUS KUTA TANDINGAN
 
Situs Kuta Tandingan diperkirakan merupakan meninggalan Kerajaan kecil dalam Kekuasaan Kerajaan Pajajaran, yang bernama Kerajaan Kuta Tandingan Jaya yang diperintah oleh Patih Panatayuda, dibantu oleh Patih Purnakuta dan Patih Mangkubumi dengan penasehat Pamanah Rasa dan Jaksa Imbang Kencana.
Menjelang keruntuhan Pajajaran Kerajaan Kuta Tandingan Jaya melepaskan diri atau diambil alih oleh tentara Kesultanan Banten yang dipimpin oleh Syech Maulana Yusuf, sebab pada tahun 1626 daerah Udug - udug dijadikan Markas Tentara Kesultanan Banten dibawah pimipinan Pager Gunung atau lebih dikenal dengan Pangeran Puger, daerah Udug - udug merupakan tempat yang strategis untuk pengawasan lalu lintas perahu di Sungan Citarum, dari daerah ini Pasukan Tentara Kesulatanan Banten menyerang Sumedang Larang juga merupakan Pos Pertahanan untuk menangkal serangan balik dari Sumedang Larang dan Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Sultan Agung. Di daerah ini Banyak ditemukan goa - goa Vertikal atau biasa disebut Luweng, yang belum dijamah ataupun diteliti kedalamannya. Lokasi SItus Kuta Tandingan terletak di  Desa Mulyasejati, Kecamatan Ciampel 38 km dari Ibu Kota Kabupaten Karawang.

Situs Karang kamulyan

Situs karangkamuyan

Kisah tentang Ciung Wanara memang menarik untuk ditelusuri, karena selain menyangkut cerita tentang Kerajaan Galuh, juga dibumbui dengan hal luar biasa seperti kesaktian dan keperkasaan yang tidak dimiliki oleh orang biasa namun dimiliki oleh Ciung Wanara.
Kisah Ciung Wanara merupakan cerita tentang kerajaan Galuh ( sebelum berdirinya Kerajaan Majapahit dan Pajajaran ). Tersebutlah raja Galuh saat itu Prabu Adimulya Sanghyang Cipta Permana Di Kusumah dengan dua permaisuri, yaitu Dewi Naganingrum dan Dewi Pangrenyep. Mendekati ajal tiba Sang Prabu mengasingkan diri dan kekuasaan diserahkan kepada patih Bondan Sarati karena Sang Prabu belum mempunyai anak dari permaisuri pertama ( Dewi Naganingrum ). Singkat cerita, dalam memerintah raja Bondan hanya mementingkan diri sendiri, sehingga atas kuasa Tuhan Dewi Naganingrum dianugerahi seorang putera, yaitu Ciung Wanara yang kelak akan menjadi peenrus kerajaan Galuh dengan adil dan bijaksana.
Bila kita telusuri lebih jauh kawasan yang luasnya kurang lebih 25 Ha ini menyimpan berbagai benda-benda yang diduga mengandung sejarah tentang Kerajaan Galuh yang sebagian besar berbentuk batu. Batu-batu ini letaknya tidaklah berdekatan tetapi menyebar dengan bentuknya yang berbeda-beda, berada dalam sebuah tempat berupa struktur bangunan terbuat dari tumpukan batu yang bentuknya hampir sama. Struktur bangunan ini memiliki sebuah pintu sehingga menyerupai sebuah kamar.


Batu-batu yang ada di dalam struktur bangunan ini memiliki nama dan kisah, begitu pula beberapa lokasi lain yang terdapat di dalamnya yang berada di luar struktur batu. Masing-masing nama tersebut merupakan pemberian dari masyarakat yang dihubungkan dengan kisah atau cerita tentang kerajaan Galuh seperti ; pangcalikan atau tempat duduk, lambang peribadatan, tempat melahirkan, tempat sabung ayam dan Cikahuripan.
Situs Karangkamulyan merupakan peninggalan Kerajaan Galuh Pertama menurut penyelidikan Tim dari Balar yang dipimpin oleh Dr Tony Jubiantoro pada tahun 1997. Bahwasannya di tempat ini pernah ada kehidupan mulai abad ke IX, karena dalam penggalian telah ditemukan keramik dari Dinasti Ming. Situs ini terletak antara Ciamis dan Banjar, jaraknya sekitar 17 km ke arah timur dari kota Ciamis atau dapat ditempuh dengan kendaraan sekitar 30 menit.
Situs ini juga dapat dikatakan sebagai situs yang sangat strategis karena berbatasan dengan pertemuan dua sungai yakni Sungai Citanduy dan Cimuntur, dengan batas sebelah utara adalah jalan raya Ciamis-Banjar, sebelah selatan sungai Citanduy, sebelah barat merupakan sebuah pari yang lebarnya sekitar 7 meter membentuk tanggul kuno, dan batas sebelah timur adalah sungai Cimuntur. Karena merupakan peninggalan sejarah yang sangat berharga, akhirnya kawasan ini ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya oleh Pemerintah.


Udara yang cukup sejuk terasa ketika kita memasuki gerbang utama situs ini. Tempat parkir yang luas dengan pohon-pohon besar disekitar semakin menambah sejuk Setelah gerbang utama, situs pertama yang akan kita lewati adalah Pelinggih ( Pangcalikan ). Pelinggih merupakan sebuah batu bertingkat-tingkat berwarna putih serta berbentuk segi empat, termasuk ke dalam golongan / jenis yoni ( tempat pemujaan ) yang letaknya terbalik, digunakan untuk altar. Di bawah Yoni terdapat beberapa buah batu kecil yang seolah-olah sebagai penyangga, sehingga memberi kesan seperti sebuah dolmen ( kubur batu ). Letaknya berada dalam sebuah struktur tembok yang lebarnya 17,5 x 5 meter.
Sahyang Bedil
Tempat yang disebut Sanghyang Bedil merupakan suatu ruangan yang dikelilingi tembok berukuran 6.20 x 6 meter. Tinggi tembok kurang lebih 80 cm. Pintu menghadap ke arah utara, di depan pintu masuk terdapat struktur batu yang berfungsi sebagai sekat (schutsel). Di dalam ruangan ini terdapat dua buah menhir yang terletak di atas tanah, masing-masing berukuran 60 x 40 cm dan 20 x 8 cm. Bentuknya memperlihatkan tradisi megalitik. Menurut masyarakat sekitar, Sanghyang Bedil dapat dijadikan pertanda datangnya suatu kejadian, terutama apabila di tempat itu berbunyi suatu letusan, namun sekarang pertanda itu sudah tidak ada lagi.
Penyabungan Ayam
Tempat ini terletak di sebelah selatan dari lokasi yang disebut Sanghyang Bedil, kira-kira 5 meter jaraknya, dari pintu masuk yakni berupa ruang terbuka yang letaknya lebih rendah. Masyarakat menganggap tempat ini merupakan tempat penyabungan ayam Ciung Wanara dan ayam raja. Di samping itu merupakan tempat khusus untuk memlih raja yang dilakukan dengan cara demokrasi.
Lambang Peribadatan
Batu yang disebut sebagai lambang peribadatan merupakan sebagian dari kemuncak, tetapi ada juga yang menyebutnya sebagai fragmen candi, masyarakat menyebutnya sebagai stupa. Bentuknya indah karena dihiasi oleh pahatan-pahatan sederhana yang merupakan peninggalan Hindu. Letak batu ini berada di dalam struktur tembok yang berukuran 3 x 3 m, tinggi 60 cm. Batu kemuncak ini ditemukan 50 m ke arah timur dari lokasi sekarang. Di tempat ini terdapat dua unsur budaya yang berlainan yaitu adanya kemuncak dan struktur tembok. Struktur tembok yang tersusun rapi menunjukkan lapisan budaya megalitik, sedangkan kemuncak merupakan peninggalan agama Hindu.
PanyandaranTerdiri atas sebuah menhir dan dolmen, letaknya dikelilingi oleh batu bersusun yang merupakan struktur tembok. Menhir berukuran tinggi 120 cm, lebar 70 cm, sedangkan dolmen berukuran 120 x 32 cm. Menurut cerita, tempat ini merupakan tempat melahirkan Ciung Wanara. Di tempat itulah Ciung Wanara dilahirkan oleh Dewi Naganingrum yang kemudian bayi itu dibuang dan dihanyutkan ke sungai Citanduy. Setelah melahirkan Dewi Naganingrum bersandar di tempat itu selama empat puluh hari dengan maksud untuk memulihkan kesehatannya setelah melahirkan.
Cikahuripan
Di lokasi ini tidak terdapat tanda-tanda adanya peninggalan arkeologis. Tetapi hanya merupakan sebuah sumur yang letaknya dekat dengan pertemuan antara dua sungai, yaitu sungai Citanduy dan sungai Cimuntur. Sumur ini disebut Cikahuripan yang berisi air kehidupan, air merupakan lambang kehidupan, itu sebabnya disebut sebagai Cikahuripan. Sumur ini merupakan sumur abadi karena airnya tidak pernah kering sepanjang tahun.

Dipati Panaekan
Di lokasi makam Dipati Panaekan ini tidak terdapat tanda-tanda adanya peninggalan arkeologis. Tetapi merupakan batu yang berbentuk lingkaran bersusun tiga, yakni merupakan susunan batu kali. Dipati Panaekan adalah raja Galuh Gara Tengah yang berpusat di Cineam dan mendapat gelar Adipati dari Sultan Agung Raja Mataram.
Setelah puas mengelilingi Situs ini, puluhan warung makan dengan menu khasnya pepes ayam dan pepes ikan mas merupakan pelengkap ketika kita berkunjung ke tempat ini. Apalagi minumannya air kelapa alami langsung dari buahnya semakin menambah asyiknya suasana. Walaupun hanya berupa situs-situs purbakala tampaknya tempat ini dikelola dengan cukup bagus, terbukti dengan kebersihan yang cukup terjaga di sek

Status Gunung papandayan garut

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi meningkatkan status Gunung Papandayan dari Waspada menjadi Siaga sejak Sabtu (13/8/2011) pukul 04.00. Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Surono mengatakan peningkatan status itu dilatarbelakangi dengan aktivitas data visual dan instrumental Papandayan. Data visual ini seperti menyebarnya gas di Kawah Welirang, Manuk, dan Baladagama. Sedangkan peningkatan data instrimental dilihat dari peningkatan gempa vulkanik, gempa tektonik lokal, dan deformasi gunung.

“Kami mengharapkan masyarakat tetap tenang menghadapi kejadian ini dan harus selalu mengikuti arahan dari Pemerintah Daerah dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah setempat,” kata Surono Masyarakat dan wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 Kilometer dari kompleks kawah Gunung Papandayan, Kabupaten Garut, mulai Sabtu (13/8/2011). Saat ini, status Gunung Papandayan ditingkatkan dari Waspada ke Siaga.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Surono mengatakan masyarakat diharapkan tenang dan tidak terpancing isu menyesatkan. Ia meminta masyarakat senantiasa mengikuti arahan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Garut dan Ba dan Penanggulangan Bencana Daerah Jawa Barat.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi meningkatkan status Gunung Papandayan dari Waspada menjadi Siaga sejak Sabtu pukul 04.00. Surono mengatakan peningkatan status itu dilatarbelakangi dengan aktivitas data visual dan instrumental Papandayan. Data visual ini seperti menyebarnya gas di Kawah Welirang, Manuk, dan Baladagama. Sedangkan peningkatan data instrimental dilihat dari peningkatan gempa vulkanik, gempa tektonik lokal, dan deformasi gunung.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi memprediksikan tiga skenario potensi bencana di Gunung Papandayan, Garut, yang saat ini statusnya siaga. Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencan a G eologi (PVMBG) Badan Geologi Surono, Sabtu (13/8/2011), di Bandung, mengatakan potensi pertama adalah erupsi freatik secara tiba-tiba disertai keluarnya gas beracun atau terjadinya erupsi gas terarah (directed lateral blast ) .
Potensi kedua longsoran tebing di sekitar kawah Gunung Papandayan yang dapat memicu terjadinya lahar. Sedangkan potensi ketiga adalah terjadinya lahar hujan jika terjadi hujan lebat. Saat ini terpantau adanya penumpukan material hasil erupsi sebelumnya yang tercatat sekitar 3 juta meter kubik , di hulu Sungai Cibere um dan Sungai Ciparugpug.
Meningkatnya status Gunung Papandayan di Garut menjadi waspada, diantisipasi seluruh instansi pemerintahan di Kabupaten Garut dengan menyiapkan strategi penanganan bencana, bila sewaktu-waktu gunung tersebut meletus. Komandan Dandim 0611 Garut, Letnan Kolonel ART Edi Yusnandar menyiapkan langkah-langkah penanganan bencana bila suatu saat terjadi letusan.
“Saat ini kita sudah mengintruksikan Satkorlak PB di Kabupaten Garut dengan melarang warga mendekati kawah gunung papandayan sekitar 1 km jaraknya, karena dianggap berbahaya,” ungkap Dandim Garut, Rabu (3/11/2010). Tim Satkorlak PB Kabupaten Garut beserta Kodim 0611 Garut, telah melakukan pemetaan terhadap lokasi evakuasi yang dirasa aman jika mendadak terjadi peningkatan aktifitas Papandayan.
“Setelah dilakukan survei oleh tim kemarin, kita melihat adanya aktifitas bergejolak terhadap kawah lama yang meletus tahun 2002 lalu, bahkan kawah baru yang terbentuk saat letusan 2002 kini bau belerang yang sangat menyengat,” ujarnya.
Untuk saat ini pihak Pemkab Garut dan TNI belum menyiapkan Posko secara khusus, yang dilakukan pemerintah saat ini menggelar Patroli guna memantau aktiftas Papandayan. “Kalau untuk posko secara khusus di lokasi Gunung Papandayan, belum kita siapkan, namun untuk Patroli kita sudah tingkatkan sejak lima hari terakhir guna memantau aktifitas Papandayan,” terang Dandim Garut.

Situs Batu Kerajaan Kendan

Situs Kendan di Nagreg: jadi TPS atau Pekuburan?

AKHIR-AKHIR ini, tersiar kabar bahwa tempat pembuangan (penampungan) sampah akhir regional Kota Bandung, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Garut, akan dilokasikan di wilayah Nagreg Kabupaten Bandung. Konon menurut beberapa calon pemborong (pelaksana) projek tersebut, di sekitar Desa Citaman, akan didirikan bangunan pengolahan sampah secara modern.
Selain itu, di lokasi yang sama, rencananya akan dijadikan kompleks pekuburan etnis Tionghoa, pindahan dari kompleks pekuburan Cikadut (Kota Bandung). Sehubungan, lokasi Cikadut akan dijadikan lokasi pusat industri dan perdagangan.
Benar atau tidaknya kedua rencana tersebut, perlu kiranya dipertimbangkan dari berbagai aspek, terutama dari kepentingan sejarah dan kepurbakalaannya. Terjadinya kasus pemusnahan Situs Rancamaya dan perusakan Prasasti Batutulis Bogor beberapa waktu yang lalu, yang sangat meresahkan dan menyakitkan masyarakat Jawa Barat (Sunda), jangan sampai terulang kembali.
Ihwal Nagreg, sesungguhnya telah dipublikasikan dalam buku "Rintisan Masa Silam Sejarah Jawa Barat" tahun 1984, Jilid II, yang diterbitkan oleh Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat. Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, ada baiknya diungkapkan kembali beberapa catatan, tentang riwayat Nagreg di masa silam.
Situs kepurbakalaan Kendan
Kendan adalah nama sebuah bukit, yang berlokasi kira-kira 500 meter di sebelah timur-laut stasiun kereta api Nagreg, sebelah tenggara Cicalengka, Kabupaten Bandung. Pada kaki bukit ini terdapat sebuah kampung bernama Kendan, masuk Desa Citaman, Kecamatan Nagreg.
Kira-kira 200 meter di sebelah utara Stasiun Nagreg, terdapat sebuah situs kepurbakalaan, yang oleh penduduk setempat disebut pamujaan (pemujaan). Mungkin, tempat itu bekas kabuyutan. Karena, menurut Pleyte (1909), di situ pernah ditemukan sebuah patung Durga yang sangat mungil, yang kini tersimpan di Museum Nasional di Jakarta.


Adanya patung Durga di tempat itu merupakan indikasi bahwa di situ pernah berkembang agama Siwa. Mungkin dari aliran Syakta. Sebab Dewi Durga, dipandang sakti, sebagai sumber kekuatan Siwa.
Nama Kendan, sudah lebih dikenal dalam dunia arkeologi. Sebab, tempat itu diketahui, sebagai pusat industri perkakas neolitik. Istilah "batu Kendan", sudah merupakan semacam tanda paten, di dalam dunia kepurbakalaan di tanah air kita.
Beberapa abad sebelum tarikh Masehi, di daerah Kendan, sudah terindikasi adanya permukiman manusia. Merupakan permukiman yang ramai pada zamannya, dan menjadi pusat pembuatan perkakas, yang diperuntukkan bagi penduduk di daerah sekitarnya.
Hasil penyelusuran Seksi Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bandung (sekitar tahun 1980-an) membuktikan bahwa legenda Kendan masih dikenal. Dalam segala kekaburan kisahnya, legenda itu masih menyebut tokoh Manikmaya, sebagai salah seorang penguasa di tempat itu. Peninggalannya, sampai saat ini, masih dianggap "keramat" oleh penduduk di sekitarnya.
Nama Resiguru Manikmaya masih mengendap dalam cerita rakyat. Tentu, sebab posisi kesejarahannya yang sangat penting. Terbukti, penulis naskah Carita Parahiyangan pun, memulai kisah kerajaan Galuh, dari tokoh Resiguru Kendan ini.
Resiguru Manikmaya, Raja Pertama Kendan
Kisah lengkap tokoh Resiguru Manikmaya dapat kita ikuti dalam naskah Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara parwa II sarga 4, yang selesai ditulis tahun 1602 Saka (1680 Masehi) di Keraton Kasepuhan Cirebon.
Sang Resiguru Manikmaya datang dari Jawa Timur. Ia berasal dari keluarga Calankayana, India Selatan. Sebelumnya, ia telah mengembara, mengunjungi beberapa negara, seperti: Gaudi (Benggala), Mahasin (Singapura), Sumatra, Nusa Sapi (Ghohnusa) atau Pulau Bali, Syangka, Yawana, Cina, dan lain-lain.
Resiguru Manikmaya menikah dengan Tirtakancana, putri Maharaja Suryawarman, penguasa ke-7 Tarumanagara (535-561 M). Oleh karena itu, ia dihadiahi daerah Kendan (suatu wilayah perbukitan Nagreg di Kabupaten Bandung), lengkap dengan rakyat dan tentaranya.
Resiguru Manikmaya, dinobatkan menjadi seorang Rajaresi di daerah Kendan. Sang Maharaja Suryawarman, menganugerahkan perlengkapan kerajaan berupa mahkota Raja dan mahkota Permaisuri.
Semua raja daerah Tarumanagara, oleh Sang Maharaja Suryawarman, diberi tahu dengan surat. Isinya, keberadaan Rajaresi Manikmaya di Kendan, harus diterima dengan baik. Sebab, ia menantu Sang Maharaja, dan mesti dijadikan sahabat. Terlebih, Sang Resiguru Kendan itu, seorang Brahmana ulung, yang telah banyak berjasa terhadap agama. Siapa pun yang berani menolak Rajaresiguru Kendan, akan dijatuhi hukuman mati dan kerajaannya akan dihapuskan.
Penerus tahta Kerajaan Kendan
Dari perkawinannya dengan Tirtakancana, Sang Resiguru Manikmaya Raja Kendan, memperoleh keturunan beberapa orang putra dan putri. Salah seorang di antaranya bernama Rajaputera Suraliman.
Dalam usia 20 tahun, Sang Suraliman semakin tampak ketampanannya dan sudah mahir ilmu perang. Oleh karena itu, ia diangkat menjadi Senapati Kendan, kemudian diangkat pula menjadi Panglima Balatentara (Baladika) Tarumanagara.
Resiguru Manikmaya memerintah di Kerajaan Kendan selama 32 tahun (536-568 Masehi). Setelah wafat, Sang Baladika Suraliman dirajakan di Kendan, sebagai penguasa baru. Penobatan Rajaputra Suraliman, berlangsung pada tanggal 12 bagian gelap bulan Asuji tahun 490 Saka (tanggal 5 Oktober 568 M.). Pada masa pemerintahannya, Sang Suraliman terkenal selalu unggul dalam perang.
Dalam perkawinannya dengan putri Bakulapura (Kutai, Kalimantan), yaitu keturunan Kudungga yang bernama Dewi Mutyasari, Sang Suraliman mempunyai seorang putra dan seorang putri. Anak sulungnya yang laki-laki diberi nama Sang Kandiawan. Adiknya diberi nama Sang Kandiawati.
Sang Kandiawan, disebut juga Rajaresi Dewaraja atau Sang Layuwatang. Sedangkan Sang Kandiawati, bersuamikan seorang saudagar dari Pulau Sumatra, tinggal bersama suaminya.
Sang Suraliman, menjadi raja Kendan selama 29 tahun (tahun 568-597 M). Kemudian ia digantikan oleh Sang Kandiawan yang ketika itu telah menjadi raja daerah di Medang Jati atau Medang Gana. Oleh karena itu, Sang Kandiawan diberi gelar Rahiyangta ri Medang Jati.
Setelah Sang Kandiawan menggantikan ayahnya menjadi penguasa Kendan, ia tidak berkedudukan di Kendan, melainkan di Medang Jati (Kemungkinan di Cangkuang, Garut). Penyebabnya adalah karena Sang Kandiawan pemeluk agama Hindu Wisnu. Sedangkan wilayah Kendan, pemeluk agama Hindu Siwa. Boleh jadi, temuan fondasi candi di Bojong Menje oleh Balai Arkeologi Bandung, terkait dengan keagamaan masa silam Kendan.
Sebagai penguasa Kendan ketiga, Sang Kandiawan bergelar Rajaresi Dewaraja. Ia punya lima putra, masing-masing bernama Mangukuhan, Karungkalah, Katungmaralah, Sandanggreba, dan Wretikandayun. Kelima putranya, masing-masing menjadi raja daerah di Kulikuli, Surawulan, Peles Awi, Rawung Langit, dan Menir. Kemungkinan, lokasi kerajaan bawahan Kendan tersebut berada di sekitar Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut.
Pendahulu Kerajaan Galuh
Sang Kandiawan menjadi raja hanya 15 tahun (597-612 M). Tahun 612 Masehi, ia mengundurkan diri dari tahta kerajaan, lalu menjadi pertapa di Layuwatang Kuningan. Sebagai penggantinya, ia menunjuk putra bungsunya, Sang Wretikandayun, yang waktu itu sudah menjadi rajaresi di daerah Menir.
Sang Wretikandayun dinobatkan sebagai penguasa Kerajaan Kendan pada tanggal 23 Maret 612 Masehi, dalam usia 21 tahun. Malam itu, bulan sedang purnama. Esok harinya, matahari terbit, tepat di titik timur garis ekuator.
Sang Wretikandayun tidak berkedudukan di Kendan ataupun di Medang Jati, tidak juga di Menir. Ia mendirikan pusat pemerintahan baru, kemudian diberi nama Galuh (permata). Lahan pusat pemerintahan yang dipilihnya diapit oleh dua batang sungai yang bertemu, yaitu Citanduy dan Cimuntur. Lokasinya yang sekarang, di desa Karang Kamulyan, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis.
Sebagai Rajaresi, Sang Wretikandayun memilih istri, seorang putri pendeta bernama Manawati, putri Resi Makandria. Manawati dinobatkan sebagai permaisuri dengan nama Candraresmi. Dari perkawinan ini, Sang Wretikandayun memperoleh tiga orang putra, yaitu Sempakwaja (lahir tahun 620 M), Jantaka, (lahir tahun 622 M), dan Amara (lahir tahun 624 M).
Ketika Sang Wretikandayun dinobatkan sebagai Raja Kendan di Galuh, penguasa di Tarumanagara saat itu, adalah Sri Maharaja Kretawarman (561-628 M). Sebagai Raja di Galuh, status Sang Wretikendayun adalah sebagai raja bawahan Tarumanagara.
Berturut-turut, Sang Wretikandayun menjadi raja daerah, di bawah kekuasaan Sudawarman (628-639 M), Dewamurti (639-640 M), Nagajayawarman (640-666 M), dan Linggawarman (666-669 M).
Ketika Linggawarman digantikan oleh Sang Tarusbawa, umur Sang Wretikandayun sudah mencapai 78 tahun. Ia mengetahui persis tentang Tarumanagara yang sudah pudar pamornya. Apalagi Sang Tarusbawa yang lahir di Sunda Sembawa dan mengganti nama Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda. Ini merupakan peluang bagi Sang Wretikandayun untuk membebaskan diri (mahardika) dari kekuasaan Sang Tarusbawa.
Sang Wretikendayun segera mengirimkan duta ke Pakuan (Bogor), sebagai ibu kota Kerajaan Sunda (lanjutan Tarumanagara) yang baru, menyampaikan surat kepada Sang Maharaja Tarusbawa. Isi surat tersebut menyatakan bahwa Galuh memisahkan diri dari Kerajaan Sunda, menjadi kerajaan yang mahardika.
Sang Maharaja Tarusbawa adalah raja yang cinta damai dan adil bijaksana. Ia berpikir, lebih baik membina separuh wilayah bekas Tarumanagara daripada menguasai keseluruhan, tetapi dalam keadaan lemah. Tahun 670 Masehi, merupakan tanda berakhirnya Tarumanagara. Kemudian muncul dua kerajaan penerusnya, Kerajaan Sunda di belahan barat dan Kerajaan Galuh di belahan timur, dengan batas wilayah kerajaan Sungai Citarum. Pada tahun 1482, kedua kerajaan ini dipersatukan oleh Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi), menjadi Kerajaan Sunda Pajajaran.
Oleh karena itu, betapa pentingnya posisi dan nilai Situs Kendan dan sekitarnya dalam perspektif sejarah dan kepurbakalaan Jawa Barat. Tidak menutup kemungkinan, jika diadakan penggalian dan penelitian arkeologis, pada tebaran radius 5-10 km dari situs Kendan, akan ditemukan bekas candi, arca-arca, artefak, tembikar, keramik, terakota, dan benda-benda peninggalan sejarah lainnya.
Semoga nilai sejarah dan kepurbakalaan Kerajaan Kendan di Nagreg, sebagaimana yang diungkapkan dalam tulisan ini, akan menjadi pertimbangan kebijakan dan kearifan kita semua, sebelum telanjur, wilayah Nagreg akan dijadikan pembuangan (penampungan) sampah akhir, ataupun dijadikan pekuburan Tionghoa pindahan dari Cikadut Bandung.

Sumber : http://bambang-gene.blogspot.com

Situs-situs Tua Kuningan Dan Budaya Kaki Ciremai yang Sarat Pesan

Situs-situs Tua Kuningan
Budaya Kaki Ciremai yang Sarat Pesan

Kelurahan Cipari Kecamatan Cigugur adalah salah satu tempat ditemukannya peninggalan kebudayaan prasejarah di Kabupaten Kuningan Jawa Barat. Selain Cipari, ada paling sedikit delapan tempat di sekitar kaki gunung Ciremai yang terdapat peninggalan bercorak Megalitik, Klasik, Hindu-Buddha, dan kolonial Belanda.

Di Cipari sendiri ditemukan tiga peti kubur batu yang di dalamnya terdapat bekal kubur berupa kapak batu, gelang batu, dan gerabah. Bekal kubur ini masih tersimpan dalam bangunan museum. Di dalam peti tidak ditemukan kerangka manusia, karena tingkat keasaman dan kelembapan tanah yang terletak 661 meter dpl itu terbilang tinggi, sehingga tulang yang dikubur mudah hancur.

Area ditemukannya artefak-artefak batu dan gerabah masih tertata baik, juga tingkat kedalaman benda-benda itu terkubur masih orisinal. Peti kubur yang terbuat dari batu indesit besar berbentuk sirap masih tersusun di tempatnya semula. Mengarah ke timur laut barat daya yang menggambarkan konsep-konsep kekuasaan alam, seperti matahari dan bulan yang menjadi pedoman hidup dari lahir sampai meninggal.

Peti kubur batu yang ada situs purbakala Cipari ini memiliki kesamaan dengan fungsi peti-peti kubur batu di wilayah-wilayah lain di Indonesia. Masyarakat Sulawesi Utara menyebut peti kubur batu sebagai waruga, masyarakat Bondowoso menyebutnya pandusa, dan masyarakat Samosir menyebutnya tundrum baho.

Ada pula tanah lapang berbentuk lingkaran dengan diameter enam meter dengan dibatasi susunan batu sirap, di tengah-tengahnya terdapat batu. Tempat yang bernama Batu Temu Gelang ini adalah lokasi upacara dalam hubungan dengan arwah nenek moyang serta berfungsi sebagai tempat musyawarah.

Di kawasan ini juga ada altar batu (punden berundak), yakni bangunan berundak-undak yang di bagian atasnya terdapat benda-benda megalit atau makam seseorang yang dianggap tokoh dan dikeramatkan. Altar ini berfungsi sebagai temapt upacara pemujaan arwah nenek moyang.

Di ketinggian tertentu terdapat pula menhir, yakni batu tegak kasar sebagai medium penghormatan sekaligus tempat pemujaan. Ada pula dolmen (batu meja) yang tersusun dari sebuah batu lebar yang ditopang beberapa batu lain sehingga berbentuk meja. Fungsi dolmen sebagai tempat pemujaan kepada arwah nenek moyang sekaligus tempat peletakan sesaji. Terdapat juga batu dakon (lumpang batu), yakni batu berlubang satu atau lebih, berfungsi sebagai tempat membuat ramuan obat-obatan.

Luas Situs Taman Purbakala Prasejarah Cipari 6.364 meter persegi. Artefak-artefak, yakni peti kubur batu, gerabah, gelang batu, beliung persegi, kapak perunggu, dan manik-manik ditemukan pada beberapa kali penggalian.Berdasar temuan itulah situs ini diduga berasal dari masa perundagian (paleometalik atau perunggu-besi) yang masih melanjutkan tradisi megalitik, sekitar tahun 1.000—500 SM. Saat itu masyarakat sudah mengenal cocok tanam dan organisasi yang baik.

Walaupun ditemukan artefak-artefak namun temuan ini tidak dapat menjelaskan siapa yang dikubur dalam tiga peti kubur batu itu dan bagaimana ciri-ciri fisiknya, selain diperkirakan tiga orang itu adalah pemuka masyarakat.

Situs Museum Taman Purbakala Cipari berada di lingkungan Kelurahan Cipari Kecamatan Cigugur Kabupaten Kuningan Jawa Barat. Terletak di daerah berbukit dengan ketinggian 661 meter dpl, di kaki gunung Ciremai bagian timur dan bagian barat kota Kuningan. Cipari berjarak 4 kilometer dari ibukota Kuningan dan 35 kilometer dari kota Cirebon.

Area ini sebelumnya adalah tanah milik Bapak Wijaya serta milik beberapa warga lainnya. Pada tahun 1971, Bapak Wijaya menemukan batuan yang setelah diteliti ternyata peti kubur batu, kapak batu, gelang batu, dan gerabah. Setelah diadakan penggalian percobaan dengan tujuan penyelamatan artefak tahun 1972, tiga tahun kemudian diadakan penggalian total. Setahun kemudian dibangun Situs Museum Taman Purbakala Cipari. Pada 23 Februari 1978 museum diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. DR. Syarif Thayeb.


Paseban Tri Panca Tunggal


Masih di Kecamatan Cigugur, tepatnya di Jalan Raya Cigugur No. 1031 Kuningan terdapat cagar budaya nasional Gedung Paseban Tri Panca Tunggal. Gedung anggun bercat putih dengan deretan jendela besar sepanjang dindingnya.

Paseban Tri Panca Tunggal didirikan tahun 1860 oleh Kiai Madrais, nama yang dikenal luas oleh masyarakat Jawa Barat sebagai pemimpin aliran agama Djawa Sunda atau adat cara Karuhun Urang atau Sunda Wiwitan, aliran kepercayaan terhadap ajaran leluhur masyarakat Sunda. Aliran penghayat yang tidak memeluk satu pun agama di Indonesia.

Di tempat inilah cucu Kiai Madrais, Djatikusumah, mukim bersama keluarganya (40 orang termasuk Emilia sang istri, delapan orang anak kandung, dan puluhan anak asuh), meneruskan ajaran leluhur. Sejak tahun 1970-an, Paseban Tri Panca Tunggal ditetapkan sebagai cagar budaya nasional.

Setiap tahun, yakni tanggal 18 hingga 22 Rayagung menurut penanggalan Sunda, ratusan orang datang ke tempat ini merayakan rangkaian acara Seren Taun, ungkapan rasa syukur masyarakat agraris Sunda terhadap Gusti Yang Widi Wasa atas hasil panen.

Meski acara ini awalnya diadakan masyarakat penghayat agama Djawa Sunda namun semakin lama semakin beragam umat yang ikut merayakan, komunitas multiagama. Yang datang juga bukan hanya masyarakat Kuningan, namun ikut pula utusan masyarakat Baduy Kanekes Banten, Dayak Losarang Indramayu, Ciptagelar Sukabumi, Kampung Naga Tasikmalaya, Using, hingga perwakilan dari Aceh. Masyarakat penghayat di daerah Cigugur memang semakin lama semakin sedikit jumlahnya, sekarang malah menjadi golongan minoritas di antara penganut-penganut agama yang diakui negara.

Pada masa Orde Baru, upacara Seren Taun pernah dihentikan selama 17 tahun karena dianggap aliran sesat. Mulai tahun 1999 upacara ini mulai diadakan lagi. Seren Taun berikutnya diadakan 8—12 Januari 2007.

Kekhasan Gedung Paseban Tri Panca Tunggal adalah pilar-pilar besar dengan hiasan naga dan awan pada bagian dasarnya, menyangga langit-langit yang terbuat dari kayu. Kompleks bangunannya terdiri dari beberapa bangunan dan ruang yang menghadap ke arah barat. Peletakan ini merupakan lambang perjalanan matahari, diartikan bahwa dalam pergelaran hidup ada lahir dan mati.

Bangunan inti Paseban terdiri dari Ruang Jinem, Pendopo Pagelaran, Sri Manganti (bagian depan padaleman), dan Dapur Ageung.

Ruang Jinem membujur arah utara-selatan. Pada masa dulu ruang ini dipakai sebagai tempat saresehan/ ceramah untuk memperdalam pengertian hidup dan kehidupan serta mengenal dan merasakan adanya cipta, rasa, dan karsa.

Di Ruang Pendopo dapat ditemui banyak perlambang ajaran Kiai Madrais, seperti relief bertuliskan aksara Sunda, Purwa Wisada, yang berarti cipta dan karsa adalah ketentuan sebagai hukum kodrati. Ada pula burung garuda di atas lingkaran yang ditunjang dua ekor naga yang saling terkait, melambangkan harus adanya pengertian antara pria dan wanita dalam menghadapi hidup.

Ruang Sri Manganti adalah sebagian dari ruangan Padaleman (ruang lebet) yang membujur dari utara ke selatan. Tempat ini digunakan untuk penyelenggaraan upacara-upacara pernikahan, untuk merundingkan masalah seperti persiapan upacara Seren Taun, dan memecahkan masalah-masalah keluarga.

Dalam ruangan ini pula ditempatkan Bale Kancana, yakni pelaminan khusus keluarga yang pada masa dulu sebagai palinggihan. Ruang padaleman berbentuk segi empat yang di tengahnya terdapat sebuah ruangan yang merupakan bangunan tersendiri. Bangunan tengah ini merupakan ruang tempat penyimpanan buku-buku sejarah dan keagamaan dari segala agama.

Dapur Ageung adalah tungku perapian terbuat dari semen yang di empat sudutnya terdapat naga bermahkota. Hal ini menggambarkan adanya perikemanusiaan (mahkota) mengatasi nafsu yang harus diarahkan dalam bimbingan kehalusan budi manusia.

Adanya Dapur Ageung seringkali dijadikan alasan pihak lain menuding bahwa Kiai Madrais dan pengikutnya sebagai orang-orang penyembah api dan bersembahyang di depan api. Padahal tudingan itu sama sekali tidak beralasan.

Dua kali seminggu di Paseban Tri Panca Tunggal diadakan pelatihan keterampilan menari, menembang, dan dongeng bagi siswa-siswi TK hingga SMA. Selain itu diajarkan pula pelajaran budi pekerti, hal mata pelajaran yang sudah bertahun-tahun dihilangkan dari kurikulum sekolah. Bagi ibu-ibu diajarkan membatik motif khas Cigugur, motif yang sudah lama terlupa.

Selain pada perayaan Seren Taun, pintu Paseban terbuka lebar bagi masyarakat yang ingin berkunjung. Baik itu sekadar melihat-lihat fisik gedung, memancing, belajar membatik, atau berdiskusi dengan Djatikusumah.

Keramahan Djatikusumah dan keluarga membuat perbincangan yang berjam-jam terasa singkat. Apalagi sambil ditemani suguhan kampung berupa labu rebus, ubi rebus, pisang goreng, serta secangkir kopi di tengah kesejukan angin Gunung Ciremai saat senja.


 
Sumber : ruyukcengal

Situs Cangkuang

Situs Cangkuang

http://candi.pnri.go.id/jawa_barat/cangkuang/image/Makam_2.JPG 

Situs Cangkuang menyimpan tinggalan aktivitas manusia masa lampau, seperti tinggalan dari tradisi Megalitik pada jaman prasejarah. Anda dapat melihat tinggalan-tinggalan tersebut yang secara umum masih terawat dan dalam keadaan utuh. Data yang ada cukup penting bagi ilmu pengetahuan karena tinggalan-tinggalan tersebut tersebar di tiga lokasi yang berbeda. Di lokasi pertama terdapat tinggalan-tinggalan berupa menhir batu datar dan tatanan batu. Lokasi ini merupakan yang terbesar dibanding kedua lokasi lainnya. Pada bagian ini tinggalan-tinggalan tersebut telah diberi pagar keliling.
Satu hal yang menarik, sekitar 50 meter dari lokasi pertama, terdapat batu Lumpang yang terletak di halaman rumah warga. Batu Lumpang tersebut dipercaya mempunyai manfaat bila ada orang yang menginginkan keturunan dengan cara meminum air yang dimasukan pada hari Kamis dan meminumnya pada Hari Jumat. Berani mencoba?
Lokasi:  Kampung Cangkuang, Kelurahan Kuningan

Situs Lingga Yoni Indihiang, Tasikmalaya

Lingga Yoni Tasikmalaya adalah peninggalan jaman purbakala, atau setidaknya pada zaman kerajaan galuh. Bentuknya berupa lesung dan alu dari batu. Tak banyak orang yang tahu tentang asal muasal dari keberadaan situs sejarah tersebut.

Hari ini, 10/01/2009 sekira jam 09.00 WIB, aku berangkat ke tempat situs tersebut. Jaraknya tidak begitu jauh dari rumahku. Hanya sekitar 2 KM ke arah barat. Atau lebih tepatnya 1 KM dari arah selatan terminal bis Kota Tasikmalaya, di area seluas 169 m2 di puncak gunung Gadung (gede) Kel. Sukamaju Kidul Indihiang Kota Tasikmalaya. Tapi apa yang kudapat?

Sungguh mengecewakan. Ternyata situs tersebut sudah gak utuh lagi. Tidak perawan akibat pemerkosaan masal yang dilakukan oleh orang2 yang tidak bertanggung jawab.

Padahal, kata penduduk sekitarnya, dulu terdapat banyak sekali peninggalan di kawasan cagar budaya tersebut. Misalnya saja, selain Lingga Yoni, ada pula batu yang bentuknya menyerupai kasur yang lengkap dengan bantalnya. Juga berbagai perkakas dapur lainnya seperti sepasang ulekan dari batu DLL. Dan kondisi saat ini, aku hanya menemukan sekumpulan batu (yang pastinya tidak seluruhnya asli produk purbakala) yang mengitari Lingga Yoni ini.


Aroma mistik menyeruak tajam di lokasi ini. Bahkan kutemukan juga disana, sebuah gerabah tanah tempat membakar kemenyan sisa orang yang pernah bertapa. Dari banyak sumber yang dipercaya, tempat ini telah merenggut banyak nyawa. Yang jadi korbannya tidak lain adalah orang-orang yang pernah mencuri atau memindahkan berbagai macam benda purbakala dari tempat tersebut. Percaya atau tidak, saya memilih percaya saja. Toh untuk melestarikan jejak budaya kita dimasa lalu perlu banyak cara untuk menjaganya.

Semoga bermanfaat..

Situs Kertabumi Kab Ciamis

Situs Kertabumi

Kawasan Kertabumi mencakup dua situs, yaitu situs Gunung Susuru dan situs Bojong Gandu. Di situs Gunung Susuru terdapat tiga batu datar terbuat dari batuan beku andesitik. Sedangkan di Gunung Susuru juga terdapat tiga punden berundak.
Selain itu, di tebing Gunung Susuru terdapat 5 gua yang terbentuk dari batuan breksi vulkanik. Berdasarkan keadaan fisiknya, terlihat gua-gua tersebut merupakan gua buatan yang ditoreh pada tebing di tepi Sungai Cimuntur dan Cileueur dengan kemiringan lereng 75°. Di dalam gua, penduduk pernah menemukan pecahan tembikar, gigi Bovidae (kerbau purba), gigi  Sus (babi), fragmen tulang, dan geraham manusia. Fragmen tulang dan gigi yang ditemukan di lokasi tersebut sudah mengalami proses pemfosilan (sub-fosil).
Tidak jauh dari Kertabumi juga terdapat Situs Bojong Gandu, sebuah tinggalan arkeologi berupa sisa benteng yang terbuat dari susunan batu. Di situs Bojong Gandu banyak ditemukan fragmen keramik, fragmen tembikar, dan kerak besi. Fragmen keramik berasal dari China (dinasti Ming dan qing), Thailand, Vietnam, dan Eropa. Di Dusun Bunder terdapat beberapa objek arkeologis yaitu sumur taman, sumur batu, dan beberapa makam kuna.

Situs Tambaksari Kab Ciamis

Situs Tambaksari

Situs Tambaksari merupakan kawasan yang mengandung tinggalan geologi dari jaman kuarter yang berumur Pliosen Tengah (2 juta tahun yang lalu). Ditemukan pertama kali pada tahun 1920, di sini Anda akan dapat menyaksikan fosil dan batu-batu aneh yang tersebar di kawasan tersebut.
Berlokasi di suatu cekungan sedimentasi yang dikenal dengan sebutan Cekungan Cijolang, dengan jenis fauna tersendiri berciri fosil penunjuk yaitu Merycopotamus Nanus Lydekker, Merycopotamus Nanus yaitu Hipopotamus (Hexaprotodon) Simplex (kuda nil), Cervus sp (rusa), dan Stegodon sp (gajah). Fosil fauna yang pernah ditemukan di kawasan Tambaksari mencakup kerbau, rusa, buaya, gajah, kuda nil, kura-kura, dan badak. Fosil-fosil tersebut ditemukan di beberapa situs, yaitu Urugkasang, Cisanca, Cicalincing, Cibabut, Cihonje, Ciloa, Cibabut, dan Cipasang.
Temuan paling spektakuler dari Tambaksari adalah fosil Homo Erectus pada Juli 1999, berupa sebuah gigi seri. Penemuan terjadi waktu dilakukan ekskavasi di tebing Cisanca pada kedalaman 333 cm di bawah permukaan tanah lapisan batu pasir kebiruan.
Anda dapat melihat beberapa fosil dan benda-benda arkeologis yang ditemukan di Tabaksari di Museum Situs Tambaksari. Lokasi-lokasi penemuan fosil dapat dicapai dengan mudah meskipun ada di antaranya yang hanya dapat dicapai dengan jalan kaki, misalnya lokasi penemuan gigi manusia purba di tepi aliran Sungai Cisanca, Desa Kaso.
Lokasi: Kecamatan Tambaksari dan Kecamatan Rancah

Candi Bojongmenje (Ranca Ekek Bandung)

Situs Rancaekek merupakan komplek purbakala yang diduga merupakan peninggalan masa pra-Islam di Jawa Barat yang terletak di Dusun Bojongmenje, Kalurahan Cangkuang, Kecamatan Rancaekek, Bandung, Jawa Barat. Situs ini terletak di dekat kawasan industri sehingga keberadaannya terancam.
Bersama-sama dengan Candi Cangkuang dan Situs Percandian Batujaya dan Situs Cibuaya, situs ini merupakan satu dari sedikit bangunan peninggalan masa Hindu-Buddha yang masih bisa dilacak di Jawa Barat.
Bojongmenje 1.jpg 
Bojongmenje 2.jpg 
Bojongmenje - pertama ditemukan.jpg 
Situs Rancaekek merupakan komplek purbakala yang diduga merupakan Kabupaten Bandung memiliki situs purbakala dalam bentuk candi ? Tidak semua orang tahu tentang hal ini. Umumnya candi-candi yang ada di pulau Jawa ditemukan di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Belakangan, baru ditemui pula beberapa candi di wilayah Jawa Barat seperti apa yang terdapat di Situs Batujaya (Karawang) dan Candi Cangkuang (Garut). Baru pada bulan Agustus 2002, secara tidak sengaja seorang warga di Kampung Bojongmenje, Desa Cangkuang, Kecamatan Rancaekek yang hendak mencari tanah guna menguruk gang yang tidak rata tanahnya, menemukan sebuah rongga tanah yang di sekelilingnya terdapat tumpukan batu yang tertata rapi. Penemuan tumpukan batu tersebut akhirnya diputuskan sebagai bagian dari suatu candi oleh para arkeologi, semenjak saat itu dilokasi tersebut dilakukan ekskavasi untuk penemuan dan penelitian lebih lanjut.

Dugaan awal oleh para ahli arkeologi Candi Bojongmenje merupakan peninggalan dari abad ke 7. Bila hal itu benar, maka Candi Bojongmenje memiliki usia yang jauh lebih muda dibandingkan Candi di situs Batujaya yang merupakan peninggalan abad ke 2, namun memiliki umur hampir yang sama dengan Candi Dieng - Wonosobo. Bahkan menurut Timbul Haryono, umur Candi Bojongmenje bisa jadi lebih tua dibandingkan dengan Candi Dieng. Sambil menunjuk sejumlah bebatuan yang ditemukan oleh tim ekskavasi, Timbul Haryono mengungkapkan, indikasinya adalah tidak ditemukannya halfround atau bebatuan dengan profil yang setengah lingkaran. Tapi yang ada hanyalah bebatuan dengan profil segi panjang dan bingkai padma.
"Dari style, teknik pembuatan candi, dan ukuran bebatuan candinya cenderung mencerminkan sebagai candi tua seperti Dieng di Jawa Tengah," ujar Timbul.
Dikemukakannya, Candi Bojongmenje yang diduga luasnya sekitar enam kali enam meter ini merupakan petunjuk di daerah tersebut pernah ada perkampungan masyarakat tertentu. Artinya, masyarakat tersebut merupakan bagian kecil dari sebuah struktur kerajaan pusat yang besar yang ditandai antara lain dengan berdirinya candi-candi berukuran besar sebagai tempat suci ibadahnya.
Karena itulah, diduga kuat selain di Bojongmenje, ada pula candi-candi sejenis yang didirikan oleh masyarakat tersebut sebagai tempat ibadahnya. Indikasi tersebut kian kuat dengan adanya aliran sungai Cimande dan sungai Citarik yang letaknya tak jauh dari lokasi Candi Bojongmenje. Bahkan ada informasi, sekitar dua kilometer dari lokasi Candi Bojongmenje ada pula mata air panas.
Menyinggung soal adanya batu ambang dengan corak dua lobang, Timbul memperkirakan batu ambang tersebut merupakan bagian dari relung candi. Begitu pula batu ambang dengan corak satu lobang, disebutkannya sebagai pecahan dari relung candi. Adapun soal temuan berupa batu bata, Timbul menilai, batu bata tersebut berusia tua dan merupakan bagian dari dalam "tubuh" candi yang bebatuannya tak terstruktur secara baik.
Dengan penemuan Candi Bojongmenje ini bisa jadi akan mengubah fakta sejarah. Fakta tersebut antara lain tentang arah penyebaran budaya di Pulau Jawa dari timur ke barat, menjadi sebaliknya yaitu dari barat ke timur. Hal itu berdasarkan temuan-temuan arkeologi yang menunjukkan bahwa Candi Bojongmenje lebih tua dibandingkan candi-candi di Jawa Tengah dan Jawa Timur atau paling tidak setara dengan candi tua di Dieng Jawa Tengah.
Penemuan Candi Bojongmenje tentu sangat membanggakan urang Sunda yang selama ini perannya dalam panggung sejarah percandian kurang terperhatikan. Bernert Kempers seorang pakar arkeologi dari Belanda juga hanya membagi masa klasik di Jawa menjadi masa klasik Jawa Tengah dan masa klasik Jawa Timur. Berdasarkan pembabakan itu, dikatakan bahwa masa klasik di Indonesia terbagi menjadi klasik tua untuk periode Jawa Tengah dan masa klasik muda untuk periode Jawa Timur.
Pendapat itu perlu ditinjau ulang karena tidak menyebut peran orang Sunda dalam sejarah bangnunan percandian. Padahal, bukti-bukti epigrafis menunjukkan bahwa di wilayah Tatar Sunda telah ada pusat kerajaan Hindu yaitu Tarumanagara. Di samping itu, perkembangan penelitian arkeologi di wilayah Tatar Sunda mulai muncul penemuan candi. Oleh karena itu, penemuan Candi Bojongmenje diharapkan akan membuka tabir percandian di Tatar Sunda menjadi lebih terang.
Melongok lokasi dimana Candi Bojongmenje berada, memang cukup memperhatikan. Untuk menuju lokasi candi ini mesti melewati sebuah gang sempit dengan tembok pagar pabrik yang menjulang tinggi. Tempat ditemukannya candi ini sendiri menempel dengan tembok pagar pembatas pabrik. Sehingga masih terdapat kendala jika ingin menggali lebih ke utara lagi, yang hal tersebut berarti butuh melakukan penggalian dihalaman area pabrik. Konon harga tanah disekitar candi ikut mengalami kenaikan hingga dua kali lipat. Nampaknya proses ekskavasi dan pembangunan kembali bangungan candi bakal masih jauh dari selesai

Sunday, September 4, 2011

Situs ranca ekek Bandung( Candi Bojongmenje )

Situs Rancaekek merupakan komplek purbakala yang diduga merupakan peninggalan masa pra-Islam di Jawa Barat yang terletak di Dusun Bojongmenje, Kalurahan Cangkuang, Kecamatan Rancaekek, Bandung, Jawa Barat. Situs ini terletak di dekat kawasan industri sehingga keberadaannya terancam.
Bersama-sama dengan Candi Cangkuang dan Situs Percandian Batujaya dan Situs Cibuaya, situs ini merupakan satu dari sedikit bangunan peninggalan masa Hindu-Buddha yang masih bisa dilacak di Jawa Barat
Kabupaten Bandung memiliki situs purbakala dalam bentuk candi ? Tidak semua orang tahu tentang hal ini. Umumnya candi-candi yang ada di pulau Jawa ditemukan di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Belakangan, baru ditemui pula beberapa candi di wilayah Jawa Barat seperti apa yang terdapat di Situs Batujaya (Karawang) dan Candi Cangkuang (Garut). Baru pada bulan Agustus 2002, secara tidak sengaja seorang warga di Kampung Bojongmenje, Desa Cangkuang, Kecamatan Rancaekek yang hendak mencari tanah guna menguruk gang yang tidak rata tanahnya, menemukan sebuah rongga tanah yang di sekelilingnya terdapat tumpukan batu yang tertata rapi. Penemuan tumpukan batu tersebut akhirnya diputuskan sebagai bagian dari suatu candi oleh para arkeologi, semenjak saat itu dilokasi tersebut dilakukan ekskavasi untuk penemuan dan penelitian lebih lanjut.

Dugaan awal oleh para ahli arkeologi Candi Bojongmenje merupakan peninggalan dari abad ke 7. Bila hal itu benar, maka Candi Bojongmenje memiliki usia yang jauh lebih muda dibandingkan Candi di situs Batujaya yang merupakan peninggalan abad ke 2, namun memiliki umur hampir yang sama dengan Candi Dieng - Wonosobo. Bahkan menurut Timbul Haryono, umur Candi Bojongmenje bisa jadi lebih tua dibandingkan dengan Candi Dieng. Sambil menunjuk sejumlah bebatuan yang ditemukan oleh tim ekskavasi, Timbul Haryono mengungkapkan, indikasinya adalah tidak ditemukannya halfround atau bebatuan dengan profil yang setengah lingkaran. Tapi yang ada hanyalah bebatuan dengan profil segi panjang dan bingkai padma.
"Dari style, teknik pembuatan candi, dan ukuran bebatuan candinya cenderung mencerminkan sebagai candi tua seperti Dieng di Jawa Tengah," ujar Timbul.
Dikemukakannya, Candi Bojongmenje yang diduga luasnya sekitar enam kali enam meter ini merupakan petunjuk di daerah tersebut pernah ada perkampungan masyarakat tertentu. Artinya, masyarakat tersebut merupakan bagian kecil dari sebuah struktur kerajaan pusat yang besar yang ditandai antara lain dengan berdirinya candi-candi berukuran besar sebagai tempat suci ibadahnya.
Karena itulah, diduga kuat selain di Bojongmenje, ada pula candi-candi sejenis yang didirikan oleh masyarakat tersebut sebagai tempat ibadahnya. Indikasi tersebut kian kuat dengan adanya aliran sungai Cimande dan sungai Citarik yang letaknya tak jauh dari lokasi Candi Bojongmenje. Bahkan ada informasi, sekitar dua kilometer dari lokasi Candi Bojongmenje ada pula mata air panas.
Menyinggung soal adanya batu ambang dengan corak dua lobang, Timbul memperkirakan batu ambang tersebut merupakan bagian dari relung candi. Begitu pula batu ambang dengan corak satu lobang, disebutkannya sebagai pecahan dari relung candi. Adapun soal temuan berupa batu bata, Timbul menilai, batu bata tersebut berusia tua dan merupakan bagian dari dalam "tubuh" candi yang bebatuannya tak terstruktur secara baik.
Dengan penemuan Candi Bojongmenje ini bisa jadi akan mengubah fakta sejarah. Fakta tersebut antara lain tentang arah penyebaran budaya di Pulau Jawa dari timur ke barat, menjadi sebaliknya yaitu dari barat ke timur. Hal itu berdasarkan temuan-temuan arkeologi yang menunjukkan bahwa Candi Bojongmenje lebih tua dibandingkan candi-candi di Jawa Tengah dan Jawa Timur atau paling tidak setara dengan candi tua di Dieng Jawa Tengah.
Penemuan Candi Bojongmenje tentu sangat membanggakan urang Sunda yang selama ini perannya dalam panggung sejarah percandian kurang terperhatikan. Bernert Kempers seorang pakar arkeologi dari Belanda juga hanya membagi masa klasik di Jawa menjadi masa klasik Jawa Tengah dan masa klasik Jawa Timur. Berdasarkan pembabakan itu, dikatakan bahwa masa klasik di Indonesia terbagi menjadi klasik tua untuk periode Jawa Tengah dan masa klasik muda untuk periode Jawa Timur.
Pendapat itu perlu ditinjau ulang karena tidak menyebut peran orang Sunda dalam sejarah bangnunan percandian. Padahal, bukti-bukti epigrafis menunjukkan bahwa di wilayah Tatar Sunda telah ada pusat kerajaan Hindu yaitu Tarumanagara. Di samping itu, perkembangan penelitian arkeologi di wilayah Tatar Sunda mulai muncul penemuan candi. Oleh karena itu, penemuan Candi Bojongmenje diharapkan akan membuka tabir percandian di Tatar Sunda menjadi lebih terang.
Melongok lokasi dimana Candi Bojongmenje berada, memang cukup memperhatikan. Untuk menuju lokasi candi ini mesti melewati sebuah gang sempit dengan tembok pagar pabrik yang menjulang tinggi. Tempat ditemukannya candi ini sendiri menempel dengan tembok pagar pembatas pabrik. Sehingga masih terdapat kendala jika ingin menggali lebih ke utara lagi, yang hal tersebut berarti butuh melakukan penggalian dihalaman area pabrik. Konon harga tanah disekitar candi ikut mengalami kenaikan hingga dua kali lipat. Nampaknya proses ekskavasi dan pembangunan kembali bangungan candi bakal masih jauh dari selesai

Bojongmenje 1.jpg 
Bojongmenje 2.jpg 
Bojongmenje - pertama ditemukan.jpg 
Sumber dari Wikipedia

Tuesday, August 9, 2011

Situs Karangkamulyan










Situs Karangkamulyan terletak tepat di pinggir jalan antara Ciamis dan Banjar, sehingga dengan cukup mudah dicapai. Apa yang membuat situs ini menarik adalah terdapatnya sisa-sisa kebudayaan kerajaan Galuh, dan oleh masyarakat setempat dihubungkan dengan cerita rakyat Ciung Wanara.

Akses
Untuk menuju
situs ini, dari kota Ciamis tinggal mengikuti jalan utama menuju ke Banjar. Sekitar 20 menit perjalanan dengan mobil maka di sebelah kanan jalan dapat anda temui situs ini dengan ciri khas area parkir diantara pepohonan dan warung-warung berderet rapi. Untuk anda yang memiliki GPS silahkan mengarah ke koordinat S7.346833 - E108.489333. Tiket masuk hanya dikenkan Rp. 1.500 per orang.


Peninggalan Galuh
Kerajaan Galuh adalah pecahan dari kerajaan Tarumanegara yang pamornya semakin melemah pada abad ke 7. Kerajaan Tarumanegara terbagi dua pada tahun 670 M menjadi :
  1. Kerajaan Sunda, dengan kekuasaan dari ujung barat pulau jawa hingga ke sungai Citarum sebagai batas timur, beribukota di sekitar hulu Cipakancilan. Pendirinya adalah Tarusbawa.
  2. Kerajaan Galuh, dengan kekuasaan dari mulai sungai Citarum hingga ke Kali Cipamali (wilayah Jawa Tengah sekarang), beribukota di sekitar Ciamis sekarang. Pendirinya adalah Wretikandayun.

Situs Karangkamulyan sering dihubungkan dengan cerita Ciung Wanara atau nama lainnya adalah Manarah, atau dikenal pula dengan gelar resminya sebagai Prabu Jayaprakosa Mandaleswara Salakabuana. Cerita Ciung Wanara dipenuhi dengan berbagai cerita kesaktian dan mistik, namun sepertinya cerita ini merupakan suatu simbolisme atas hal-hal yang terjadi pada saat tersebut. Inti cerita dari Ciung Wanara adalah perebutan kekuasaan diantara dua keturunan kerajaan Galuh yaitu antara Manarah dan Banga. Puncak cerita adalah mengenai Manarah yang berhasil memanfaatkan kelemahan Banga yang menyukai sabung ayam sehingga lengah akan pertahanan kerajaan. Sejarah mencatat bahwa perseteruan ini ditengahi oleh Resi Demunawan, dan atas perundingan kedua pihak (739 M) disepakati bahwa Manarah diserahi kekuasaan Kerajaan Galuh, sementara Banga diserahi kekuasaan Kerajaan Sunda.










Situs Menarik
Pertama masuk, kita langsung dihadapkan pada sebuah jalan kuno sisa peninggalan kerajaan Galuh. Situs Karangkamulyan yang oleh masyarakat sekitar dikaitkan dengan cerita Ciung Wanara, memiliki berbagai situs menarik yaitu :
  1. Penyabungan ayam, yaitu suatu tempat berupa lapangan kecil yang dipercaya sebagai tempat penyabungan ayam di jaman Ciung Wanara
  2. Sanghyang Bedil, merupakan sebuah susunan bebatuan yang membentuk ruangan sekitar 6m x 6m dengan tinggi sekitar setengah meter dengan fungsi yang tidak diketahui. Namun masyarakat bercerita bahwa pada zaman dahulu sering terdengar suara bedil (senapan) sebagai pertanda dari situs ini bila akan terjadi suatu kejadian besar.
  3. Pangcalikan, dipercaya oleh masyarakat sebagai singgasana raja.. Situs ini berbentuk susunan batu yang membentuk ruangan dan dilengkapi sebuah batu berbentuk persegi di tengah-tengahnya.
  4. Lambang Peribadatan, adalah suatu susunan batu berukuran 3m x 3m dengan dilengkapi sebuah batu berukir di bagian tengah. Batu berukir ini sepertinya merupakan bagian kemuncak dari sebuah candi.
  5. Panyandaran, adalah batu yang merupakan sebuah menhir dengan tinggi sekitar 120cm dan sebuah batu kubur (dolmen). Panyandaran dipercaya masyarakat sebagai tempat Dewi Naganingrum melahirkan Ciung wanara yang kemudian beristirahat selama 40 hari di tempat tersebut karena kecapaian setelah melahirkan.
  6. Cikahuripan, adalah sebuah sumur yang melambangkan sumber kehidupan (hurip = hidup). Sumur ini terletak dekat dengan pertemuan dua buah sungai yaitu sungai Citanduy dan sungai Cimuntur.
  7. Makam Dipati Panaekan, adalah sebuah susunan batu yang dipercaya sebagai makam Raja Galuh Gara Tengah yang mendapat gelar sebagai Adipati dari kerajaan Mataram.
Selain situs-situs tersebut, di dekat area parkir terdapat :
  1. Mesjid
  2. Bangunan penyimpan sisa artefak yg ditemukan
  3. Gong Perdamaian Dunia









Sedikit mengulas Gong Perdamaian Dunia, ini adalah monumen berbentuk gong berukuran 3,3 meter yang di bagian belakangnya tersimpan sebuah pusaka peninggalan raja Galuh. Monumen ini dihiasi oleh kolam ikan, dan anak-anak kecil biasanya kelihatan membeli makanan ikan seharga Rp. 1.000 per bungkus lalu menyebarkannya di kolam sambil menikmati pemandangan ikan berebut makanan. Pendirian monumen ini diprakarsai oleh beberapa pejabat pemerintah setempat.

Selain tempat-tempat menarik tersebut, secara keseluruhan situs Karangkamulyan merupakan hutan lindung dengan berbagai koleksi pohon besar yang dihuni oleh monyet yang bebas berkeliaran. Setelah berjalan kaki mengelilingi area situs, anda dapat beristirahat di warung-warung yang menyediakan nasi timbel dan berbagai makanan dan minuman.