Showing posts with label sejarah. Show all posts
Showing posts with label sejarah. Show all posts

Monday, November 19, 2012

Sejarah Karawang Pada Jaman Pajajaran

SEJARAH KARAWANG

Pada zaman Kerajaan Padjadjaran yang dipimpin oleh Sri Baduga Maha Raja, Karawang merupakan salah satukota dari Pajajaran yang merupakan kota Pelabuhan di tepi Sungai Citarum. Bupati Pertama adalah Adipati Kertabumi IV yang dikenal Singaperbangsa yang secara turun temurun menjabat Bupati Karawang, pernah menjadi sebagai bagian dari wilayah kekuasaan kerajaan Mataram dan pemerintah Hindia Belanda sampai datangnya kekuasaan Inggris. Pada masa Pemerintahan Inggris (tahun 1811-1816)
Kabupaten Karawang dihapuskan dan baru dihidupkan kembali sekitar tahun 1820 dan Bupati pertamanya R.A.A. Surianata. Sejarah kedudukan Ibu Kota Kabupaten Karawang adalah :

  1. Kabupaten Karawang dengan Ibu Kotanya di Karawang dari tahun 1653-1819 (166) tahun
  2. Kabupaten Karawang Ibukotanya di Wanayasa dari sekitar tahun 1820-1830 (10) tahun
  3. Kabupaten Karawang dengan Ibukotanya di Purwakarta dari tahun 1830-1449.Melalui keputusan Wali Negara Pasundan tanggal 29 Januari 1949 Nomor 12 Kabupaten Karawang dipecah menjadi 2
  4. yaitu Karawang Barat dengan Ibu Kota Karawang dan Karawang Timur menjadi Kabupaten Purwakarta dengan Ibu kota di Subang
  5. Dengan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah Kabupaten dalam lingkungan Propinsi Jawa Barat tahun 1950. Karawang secara resmi dinyatakan sebagai Kabupaten yang berdiri sendiri dengan Ibukota di Karawang
Saat ini Kabupaten Karawang dibagi atas 3 Kewedanaan, 12 Kecamatan dan 112 Desa dan ditetapkan bahwa Kabupaten Karawang didirikan pada tahun 1633 Masehi. Sekarang Karawang telah terbagi menjadi 30 Kecamatan dan terdiri dari 309 Desa.

INILAH NAMA-NAMA BUPATI KARAWANG SEPANJANG SEJARAH

NO
TAHUN
NAMA
1
1633 – 1679
Kiayi Panembahan Singaperbangsa (R.A.Kertabumi IV)
2
1679 - 1720
Raden Anom Wirasuta (R.A.A Panatayuda I)
3
1721 – 1731
Raden Jayanegara (R.A.A. Panatayuda II)
4
1731 – 1752
Raden Singanegara (R.A.A.Panatayuda III)
5
1752 – 1786
R.M.Soleh (Dalem Balon/D.Serambi/R.A.A.Panatayuda IV
6
1786 – 1811
Dalem Suro (R.A.A.Singosari Panatayuda)
7
1811 – 1811
Raden Adipati Surialaga
8
1811 – 1820
Raden Adipati Sastradipura
9
1820 - 1827
Raden Adipati Surianata
10
1827 - 1830
Raden Dalem Santri / R.A. Suriawinata I
11
1830 – 1849
Raden Dalem Solawat (R.H.M.Syirod R.A.Suriawinata II)
12
1849 – 1854
Raden Sastranegara
13
1854 – 1863
Raden Tumanggung Aria Sastradiningrat I (Dejan Ajian)
14
1863 – 1886
Dalem Bintang R.Adikusumah (R.A.A. Sastradiningrat II)
15
1886 – 1911
Raden Suriakusumah (R.A.A.Sastradiningrat III)
16
1911 – 1925
Raden Adipati Gandanegara
17
1925 – 1942
Raden A.A.Sumamiharja
18
1945 – 1945
Raden Panduwinata
19
1945 – 1948
Raden Djuarsa
20
1948 – 1949
Raden Ateng Surya Satjakusumah
21
1949 – 1950
Raden Hasan Surya Satjakusumah
22
1950 – 1951
Raden H. Rubaya Suryanatamihardja
23
1951 – 1961
Raden Tohir Mangkudijoyo
24
1961 – 1971
Letkol Inf. Husni Hamid (Bupati Kdh)
25
1971 – 1976
Letkol Inf.Setia Syamsi (Bupati Kdh)
26
1976 – 1981
Kol.Inf.Tata Suwanta Hadisaputra (Bupati Kdh)
27
1981 – 1986
Kol.Cpl.H.Opon Supandji (Bupati Kdh)
28
1986 – 1996
Kol.Czi.H.Sumarmo Suradi (Bupati Kdh)
29
1996 – 1999
Kol.Inf.Drs.H.Dadang S.Muchtar (Bupati KDH)
30
1999 – 2000
RH.Daud Priatna, SH (Penjabat Bupati)
31
2000 – 2005
Letkol.Inf.Achmad Dadang
32
33 
34
2005 s.d.2010
2010 s.d. sekarang
2010-2015
Kol.Inf.Drs.H.Dadang S.Muchtar (Bupati)
Imam Somantri (Pejabat Bupati)
....

Masuknya Agama Islam Ke Kab. Karawang

PERKEMBANGAN MASUKNYA AGAMA ISLAM KE KABUPATEN KARAWANG
 
      Jalur perdagangan dan penyebaran dari pusat pemerintahan Islam di 
Damaskus dan Baghdad kenusantara dalam garis besarnya ada dua, yaitu : melalui
daratan Tiongkok ketimur tengah yang disebut "jalur sutra" dan melalui perlak
di Aceh terus berlayar melalui Lautan India ke Gujarat dan Teluk Persia.

Sejak tahun 671 M, Kerajaan Melayu Tua dan Sriwijaya telah mengorganisir
perdagangan rempah-rempah dan dengan menggunakan kapal dagang yang bertolak
dari pelabuhan Muara sabak, dekat sungai Batanghari. Route pertama yang
dipergunakan selama hampir seratus tahun adlah tetap yaitu Muara sabak, kapal
pengangkut rempah-rempah melalui Cina selatan dan berhenti dulu di Cempa.Dari
sini kapal berlabuh di Canton Tiongkok, kemudian barang dagangan ini diangkut
oleh rombongan para pedagang yang menggunakan unta, lewat jalan darat langsung
menuju Damaskus Syiria.

Pada tahun 715 M,Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik dari Dinasti Umayah,
menemukan jalur perdagangan yang baru yang lebih menguntungan yaitu melalui
Teluk persia terus keGujarat India, ke Perlak di Aceh, kemudian,kemudian
langsung ke Kerajaan Sriwijaya. Untuk meningkatkan perdagangan dan penyebaran
agama Islam, Khalifah Umar bin Abdul Aziz Tahun 718 M, mengirim misi diplomatik
ke Kerajaan Sriwijaya dan kerajaan Kalangga di Japara, sehingga perdagangan
semakin menguntungkan dan Kota Damaskus menjadi kota perdagangan di Dunia.
Namun tidak digunakan "jalur sutra" tentu sangat merugian Tiongkok, sehingga
sehingga Kaisar dari Dinasti Tang yang memerintah abad VII-IX melakukan
penyerangan terhadap kerajaan Sriwijaya dan Raja Sindrawarman yang telah
memeluk agama Islam tewas terbunuh .

Kerenggangan diplomatik dengan pihak Tiongkok dapat dipulihkan kembali
oleh Khalifah Harun Al Rasyid yang memerintah tahun 786-809 M, sehingga bukan
saja melancarkan hubungan dagang, akan tetapi juga dalam penyebaran Agama
Islam. Hal ini ditndai dengan bertambahnya Islam disumatra dan Malaka.seperti
kesultanan Daya Pasai, Bandar Kapilah, Muara Malaya, Aru Baruman, dan
kesultanan kuntu campa. Perdagangan yang melalui dua jalur tadi membawa
kestabilan dan pemerintahan Kesultanan Islam di Sumatra dan Malaka dan
penyebaran agama Islam antara Abad VII-XV makin meluas ke kota kota pelabuhan
di pulau Jawa. Pada Tahun 1409, Kaisar Cheng Tu dari Dinasti Ming memerintahkan
Laksamana Haji Sampo Bo untuk memimpin Armada Angkatan Lautnya dan mengerahkan
63 buah Kapal dengan prajurit yang berjumlah hampir 25 000 orang untuk menjalin
persahabatan dengan kesultanan yang beragama Islam. Dalam Armada Angkatan Laut
Tiongkok itu rupanya diikutsertakan Syeh Hasanuddin dari Campa untuk mengajar
Agama Islam dikesultanan Malaka, Sebab Syeh Hasanuddin adalah putra Ulama
besar Perguruan Islam di Campa yang bernama Syeh Yusuf Siddik yang masih ada
garis keturunan dengan Syeh Jamaluddin serta Syeh Jalaluddin Ulama besar Mekah.
Bahkan menurut sumber lain garis keturunannya sampai kepada Syaidina Husein bin
Syaidina Ali ra, menantu Rosulullah saw. Adapun pasukan angkatan laut Tiongkok
pimpinan Laksaman Sam Po Bo lainnya ditugaskan mengadakan hubungan persahabatan
dengan KI Gede Tapa Syah Bandar Muara Jati Cirebon serta sebagai wujud
kerjasama itu dibangunlah sebuah menara dipantai pelabuhan Muara Jati.

Kegiatan penyebaran Agama Islam oleh Syeh Hasanuddin rupanya sangat
mencemaskan penguasa Pajajran yang bernama Prabu Angga Larang, Sehingga
dimintanya agar penyebaran tersebut dihentikan. Oleh Syeh Hasanuddin perintah
itu dipatuhi. Kepada utusan yang datang kepadanya ia mengingatkan, bahwa
meskipun Dakhwah itu dilarang, namun kelak dari ketrunan Prabu Angga Larang ada
yang akan menjadi Walillulah. Beberapa saat kemudian Syeh Hasanuddin mohon
diri kepada Ki Gede Tapa sendiri, sangat prihatin atas peristiwa yang menimpa
Ulama Besar, Sebab Ia pun ingin menambah pengetahuannya tentang Agama Islam.
Oleh karena itu sewaktu Syeh Hasanuddin kembali ke Malaka, putrinya yang
bernama Nyi Subang Karancang dititipkan ikut bersama Ulama Besar ini untuk
belajar Agama Islam di Malaka.

Beberapa waktu kemudian Syeh Hasanuddin membulatkan tekadnya untuk
kembali kewilayah Kerajaan Hindu Pajajaran. Untuk keprluan tersebut, maka telah
disiapkan 2 perahu dagang yang memuat rombongan para santrinya termasuk Nyi
Subang Karancang. Setelah rombongan ini memasuki Laut Jawa, Kemudian memasuki
Muara Kali Citarum yang ramai dilayari oleh Perahu para pedagang yang memasuki
wilayah Pajajaran. Selesai menyusuri Kali Citarum ini akhirnya rombongan perahu
singgah di Pura Dalam atau Pelabuhan Karawang.Kedatangan rombongan Ulama Besar
ini disambut baik oleh petugas Pelabuhan Karawang dan di izinkan untuk
mendirikan Musholla yang digunakan juga untuk belajar mengaji dan tempat
tinggal. 
 
DI PELABUHAN KARAWANG 
 
        Nama Karawang berasal dari Bahasa Sunda KARAWA-AN, adalah Nama suatu 
kesatuan wilayah dan juga nama salah satu pelabuhan yang terletak ditepi kali
Citarum pada masa pemerintahan Kerajaan Pajajaran. Sebagai suatu Wilayah,
Karwang sudah memegang peranan penting pada masa Pemerintahan kerajaan
Tarumanegara yang berkuasa pada abad IV-VI M. Tim Arkelogi Nasional yang
melakukan penelitian sejak tahun 1952 sampai sekarang, banyak menemukan
peninggalan kerajaan Tarumanegara seperti bekas bangunan candi dan lain-lainnya
di sekitar Desa Seragan Batu Jaya dan Desa Cibuaya. demikian juga adanya nama
Patruman sebuah kampung di dekat Rengasdengklok, diduga bakas salah satu
pelabuhan Tarumanegara.

Pertama kali Citarum beberapa abad yang lalu merupakan satu-satunya
pilihan untuk jalur lalu lintas bagi kelancaran kegiatan perdagangan,
pemerintah dan lain-lain. Kerajaan Pajajaran sebagai penerus kerajaan
Tarumanegara yang memerintah pada abad VIII untuk kepentingan yang
sama.Disebutkan juga bahwa Karawang sebagai salah satu pelabuhan penting
kerajaan Pajajaran, seperti halnya pelabuhan Baten, Tanggerang, Sunda Kelapa
dan Bekasi. Dari Pelabuhan Karawang ramai diperdagangan barang dagangan ke
pelabuhan Sunda Kelapa, seperti madu, ikan kering dan hasil pertanian yang
banyak dibeli oleh para pedagang Portugis.

Selain sebagai pelabuhan Karawang juga menjadi tampat persimpangan
jalan darat dari Pakuan ibu kota krajaan Pajajaran ke Kawali (galuh). Kota yang
dilewati adalah Cibarusah, Warunggede, Tangjungpura, Karawang, Cikao,
Purwakarta, Sagalaherang, Sumedang, Tomo, Sindangkasih, Rajagaluh, Talaga,
bferakhir di Kawali.

Menurut Amir Sutaarga dalam bukunya "Prabu Siliwangi" halaman 58, jalan
darat tersebut merupakan "High-way" nya kerajaan Pajajaran di masa itu. Sebab
dengan adanya jalur jalan darat, dan kota-kota pelabuhan seperti Bnaten,
Tanggerang, Sunda Kelapa, Bekasi, Karawang, maka seluruh wilayah Pajajaran
terkontrol secara baik.

Pentingnya peranan pelabuhan Karawang, bukan saja pada masa
pemerintahan Pajajaran dari abad VIII sampai abad XVI M, yakni hampir 800
tahun, akan tetapi sampai juga masa pemerintahan Sulatan Agung Mataram yang
telah mengangkat Bupati Karawang pertama Adipati Singaperbangsa dan Aria
Wirasaba. Bahkan sampai berakhirnya masa pemerintahan kolonial Belanda dan
Jepang. Pelabuhan Karawang memiliki 2 tempat penghentian.Untuk perahun yang
datang dari arah Patarumanatau Laut Jawa berlabuh di Kampung Teluk Bunut.
Sedangkan untuk perahu yang datang dari arah Cikao, berlabuh di kampung
Nagasari Jebug. Perahun para pedagang ini tidak mau menelusuri Kali Citarum
yang melingkari kampung Poponcol. Selain jaraknya cukup jauh yaitu hampir 5 Km,
juga pada masa itu airnya deras dan banyak batu cadas. Sedangkan jika berhenti
di pelabuhan Kampung Teluk Bunut dan Nagasari, anatara kedua tempat berlabuh
itu jfaraknya cukup dekat dan hanya memerlukan jalan penghubung sepanjang
kira-kira 400 meter.

Dengan adanya 2 pelabuhan tersebut maka akan timbul kegiatan muat
bongkar, terjadinya jual beli sehingga dibutuhkan adanya pasar. Warung makanan
minuman, tempat menginap bagi yang kemalaman. Sedangkan bagi petugas perwakilan
pemerintah Pajajaran ada kegiatan memelihara keamanan dan ketertiban,
pengawasan lalu lintas barang dan orang bepergian dan sebagainya.

Ke Pelabuhan Karawang dengan kesibukan seperti dijelaskan itulah,
rombongan Syeh Quro dengan 2 perahunya itu singgah yang menurut Buku Rintisan
Sejarah Masa Silam Jawa Barat terbitan tahun 1983-1984 disebut Pura Dalem.
Mungkin yang dimaksud ialah kota (pura) dimana ada kegiatan petugas pemerintah
di bawah kewenangan jabatan Dalem. Yang tidak lain ialah pelabuhan Karawang.
Rombongan Ulama Besar ini lazimnya sangat menjunjung peraturan kota pelabuhan
yang dikunjungi, sehingga aparat setempat sangat menghormatinya dan memberi
izin untuk mendirikan musholla yang digunakan tempat untuk mengaji atau
peasntren dan sekaligus sebagai tempat tinggal. Lokasi yang dipilih untuk
keperluan itu tentu tidak begitu berjauhan dengan kegiatan pelabuhan. Setelah
beberapa waktu berada dipelabuhan Karawang, Syeh Quro menyampaikan Da'wahnya di
Musholla yang dibangunnya penuh keramahan. Uraiannya tentang Agama Islam mudah
dipahami, dan mudah pula untuk diamalkan, Karena Ia bersama santrinya langsung
memberi contoh. Pengajian Al Qur'an memberikan daya tarik tersendiri, karena
Ulama Besar ini memang seorang Qori yang merdu suaranya. Oleh karena itu setiap
hari banyak penduduk setempat yang secara sukarela menyatkan masuk Islam.

Berita tentang dakwah Syeh Quro di pelabuhan Karawang rupanya telah
terdengar Prabu Angga Larang yang pernah melarang Syeh Quro melakukan kegiatan
yang sama tatkala mengunjungi pelabuhan Muara Jati Cirebon, seperti sudah
disinggunkan pada bab II terdahulu. Sehingga ia segera mengirim utusan yang
dipimpin oleh putera mahkota yang bernama Raden Pamanah Rasa untuk menutup
Pesantren Syeh Quro. Namun ta'kala putera mahkot ini tiba ditempat tujuan,
rupanya hatinya tertambat oleh alunan suara merdu pembaca ayat-ayat suci Al
Qur'an yang dikumandangkan oleh Nyi Subang Karancang. Putar Mahkota yang
setelah dilantik menjadi Raja Pajajaran bergelar Prabu Siliwangi, itu
mengurungkan niatnya untuk menutup pesantren Quro, dan tanpa ragu-ragu
menyatakan isi hatinya untuk memperistri Nyi Subang Karancang yang cantik itu.
Lamaran tersebut rupanya diterima oleh Nyi santri dengan syarat maskawinnya
harus "Bintang Saketi" yaitu simbol dari "tasbeh" yang berada di Negeri Mekah.
Sumber lain menyatakan bahwa, hal itu merupakan kiasan bahwa sang Prabu harus
masuk Islam, dan patuh dalam melaksanakan syariat Isalam. Selain itu, Nyi
santri juga mengajukan syarat, agar anak-anak yang akan dilahirkan kelak harus
ada yang menjadi Raja. Semua hal tesebut rupanya disanggupi oleh Raden Pamanah
Rasa, sehingga beberapa waktu ke mudian pernikahan pun dilaksanakan, bertempat
di Pesantren Quro atau Mesjid Agung sekarang dan Syeh Quro bertindak sebagai
penghulunya.

Perkawinan di musholla yang senantiasa mengAnggungkan asma Allah SWT
itu memang telah membawa hikmah yang besar. Para putera puteri yang dikandung
oleh Nyi Subang Karancang yang muslimah itu, memancarkan sinar IMAN dan ISLAM
bagi umat di sekitarnya. Nyi Subang Karancang sebagi isteri seorang Raja memang
harus berada di Istana Pakuan Pajajaran, dengan tetap memancarkan Cahaya
Islam. Putera pertama yang laki-laki bernama Raden Walangsungsang setelah
melewati usia remaja, maka bersama adiknya yang bernama Raden Rara Santang,
meninggalkan Istana Pakuan Pajajaran kemudian mendapat bimbingan dari Ulama
Besar yang bernama Syeh Dzatul Kahfi di Paguron Islam di Cirebon. Setelah kakak
beradik ini menunaikan ibadah Haji, maka Raden Walangsungsang menjadi Pangeran
Cakrabuana memimpin pemerintahan Nagari Caruban Larang, Cirebon. Sedangkan
Raden Rara Santang waktu di Mekah diperistri oleh Sulatan Mesir yang bernama
Syarif Abdillah. Adik Raden Walangsungsang yang bungsu adalah laki-laki bernama
Raden Kian Santang, pada masa dewasanya menjadi Munaligh untuk menyebarkan
Agama Islam di daerah Garut.

Adapun Raden Nyi Mas Rara Santang setelah kawin dengan Syarif Abdillah,
namanya diganti menjadi Syarifah Muda'im. Dari perkawinan ini mereka dikarunai
dua orang putera masing-masing bernama Syarif Hidayatullah, dan Syarif
Nurullah. Setelah ayahnya meninggal dunia jabatan sultan diserahkan kepada
Syarif Nurullah, sebab Syarif Hidayatullah setelah menimba ilmu Agama yang luas
dari para Ulama Mekah dan Bagdad, ia bertekad untuk menjadi Mubaligh di
Cirebion. Demikianlah tahun 1475 ia bersama ibunya berlayar ke Cirebon dan
kedatangnya disambut dengan penuh kebahagiaan oleh Pangeran Cakrabuana atau
Cakraningrat. Setelah usia Pangeran Cakraningrat cukup tua, Syarif Hidayatullah
dipercaya untuk menggantikan kedudukannya dengan gelar Susuhunan atau Sunan.
Pengangkatan Syarif Hidayatullah tersebut mendapat dukungan terutama dari Raden
Fatah, Pemimpin Pesantren dan Sunan Bintoro, putera Raja Majapahit Brawijaya V,
yang diangkat menjadi Sulatan Kerajaan Islam Demak I. Dalam rangka pembangunan

Mesjid Agung Demak, Sunan Cirebon diundang untuk menetapkan kebijaksanaan
tentang penyebaran Agama Islam di Pulau Jawa. Sidang para Sunan yang dikenal
Wali Songo itu juga menetapkan bahwa Syarif Hidayatullah diangkat menjadi ketua
atau pimpinan dari Wali Songo, dengan gelar Sunan Gunung Jati. Dengan demikian
apa yang dikatakan oleh Syeh Quro, bahwa kelak dari keturunan Raja Pajajaran
ada yang menjadi Waliyullah, dan permohonan Nyi Subang Karancang perkawinannya
dengan Prabu Siliwangi ada yang menjadi Raja, telah menjadi kenyataan. Sejarah
juga mencatat, bahwa dengan berkembangnya kerajaan Islam yang mendapat dukungan
dari Wali Songo, maka pengaruh kerajaan Majapahit dan Pajajaran semakin
memudar. Bahkan pada tahun 1579 M, kerajaan Pajajaran lumpuh sama sekali akibat
dikalahkan oleh Syeh Yusuf itu adalah Putera Sultan Hasanuddin atau cucu Sunan
Gunung Jati, yang tidak lain masih keturunan Nyi Subang Karancang dari
perkawinannya dengan Prabu Siliwangi yang diselenggarakan di Mesjid Agung
Karawang.

Adapun kegiatan pesantren Quro yang lokasinya tidak jauh dari
pelabuahan Karawang, rupanya kurang berkembangnya karena tidak mendapat
dukungan dari pemerintah kerajaan Pajajaran. Hal tersebut rupanya dimaklumi
oleh Syeh Quro, sehingga pengajian di pesantren agak dikurangi, dan kegiatan di
Masjid lebih dititik beratkan pada ibadah seperti sholat berjamaah. Kemudian
para santri yang telah berpengalaman disebarkan kepedesaan untuk mengajarkan
Agama Islam, terutama daerah Karawang bagian Selatan seperti Pangkalan.
Demikian juga kepedesaan dibagian Utara Karawang yang berpusat di Desa Pulo
Kalapa dan sekitarnya. Banyak hal yang menarik dalam cara penyebarannya Agama
Islam oleh Syeh Quro antara lain :

1. Sebelum menyampaikan ajaran Islam dibangunnya terlebih dahulu sebuah Masjid,
seperti halnya yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Rosulullah SAW, sewaktu
melakukan Hijrah dari Mekah ke Madinah, maka beliau terlebih dahulu membangun
Masjid Quba.

2. Dalam menyampaikan ajaran Islam ditempuhnya melalui pendekatan yang disebut
Dakwah Bil Hikmah, sebagaimana Firman Allah dalam Al Qur'an surat XVI An Nahl
ayat 125, yang artinya : "Serulah kejalan tuhanmu dengan hikmah (kebijaksanaan)
dan dengan pelajaran yang baik, dan bertukar fikiranlah dengan mereka dengan
cara yang terbaik".

3. Sebelum memulai Dakwahnya, telah disiapkan para kader penyebaran Agama Islam
(Mubaligh-Mubalighoh) yang mampu berhubungan dengan masyarakat, termasuk Nyi
Subang Karancang. Syeh Quro sangat memperhatikan situasi kondisi masyarakat dan
sangat menghormati adat istiadat penduduk yang didatanginya.

4. Para Ulama dan tokoh masyarakat kebanyakan berpendapat bahwa tempat
pengabdian Syeh Quro sampai akhir masanya, ialah di Desa Pulo Kalapa Kecamatan
Lemah Abang.

5. Pengabdian Syeh Quro demgam para santri dan para Ulama generasi penerusnya
adalah " menyalakan pelita Islam", sehingga sinarnya memancarkan terus di
Karawang dan sekitarnya.

Dalam semaraknya penyebaran Agama Islam oleh Wali Songo, maka masjid
yang dibangun oleh Syeh Quro, kemudian disempurnakan oleh para Ulama dan Umat
Islam yang modelnya berbentuk "joglo" beratap 2 limasan, hampir menyerupai
Masjid Agung Demak dan Cirebon.

Makam KH. R.M.Joesoef Purwakarta

MAKAM KH. R.M.JOESOEF ASET DAERAH PURWAKARTA


R.H.M. JOESOEF , Mungkin dikalangan para Arifbillah namanya sudah tak asing lagi, namun PELITA menyayangkan Generasi muda di kota santri Purwakarta hanya sedikit yang mengetahui siapa Beliau……!!!!,

Hasil penelusuran PELITA di kota Purwakarta selama sepekan, di Makam seorang Syech yang terkenal DI Jamannya dengan sebutan BAENG YOESOEF ini, mempunyai kesan tersendiri… tidak mengurangi rasa takjim, hormat serta tidak sedikitpun merasa paling tahu, PELITA mencoba menguak siapakah, tokoh/Aulia yang satu ini? Konon beliau-lah yang menjadi Mursyid dari seorang Ulama terkenal Dunia yaitu SYECH NAWAWI AL-BANTANI itu………….

H.SANUSI, S.Ag (pengurus makam syech R.H.M. YOESOEF)
Letal makamnya berhadapan dengan PEMDA kabupaten Purwakarta, di alun-alun Kian Santang, banyak pejiarah dari berbagai daerah di Indonesia yang datang ke makam ini, sengaja PELITA menemui salah seorang dari empat orang Pengurus Makam Sang WaliAllah, yaitu : H. Sanusi, S.Ag (pensiunan DEPAG Kab. Purwakarta) yang juga masih keturunan ke 6 dari Baeng Yusuf.
Adapaun ke empat pengurus Makam Baeng Yusuf yaitu. H.Sanusi, S.Ag, R. Udin Samsudin, Iing Samsudin, Mumus Mustofa kamal dan Nana Sutisna, yang kesemuanya masih keturunan dari R.H.M.Yoesoef. kepengurusan diatur berdasarkan Trah/turunannya, namun pengabdiannya belum mendapat respon positif dari Pemerintahan daerah Purwakarta (dari hal Pendapatan/gaji).

R.H.M.JOESOEF merupakan penyebar Islam di wilayah kabupaten Purwakarta, beliau di lahirkan di Bogor pada tahun 1709 M, merupakan keturunan langsung dari keraton Padjajaran. Waktu kecil beliau sudah menunjukan kelebihan. Usia 7 Tahun sudah menguasai bahasa Arab usia 12 tahun hafal Al-Qur’an usia 13 tahun beliau pergi ke jazirah arab yaitu di kota Makkah untuk belajat Islam secara menyeluruh, Beliau menetap di mekah selama 11 tahun.
Beliau adalah putra dari Kanjeng R. Aria Djayanegara yang pada waktu itu menjabat Bupati bogor dan Bupati Karawang, pada abad ke 17, serta di makamkan di Karawang (di Desa Manggungjaya Kec. Cilamaya Kulon),

Beliau pernah di Mandagaskar bersama-sama pelaut Nusantara, selain beliau melaksanakan ibadah Haji (Arabia) sepulang dari pengembaraannya beliau mengamalkan ilmu Agama Islam yang beliau dapatkan ke dalam tulisan berupa buku, yang diantaranya FIQIH SUNDA, TASYAUF SUNDA dan TAFSIR SUNDA. Guru beliau yang termasyhur terutama di bidang Politik yaitu Syech Cempaka Putih (Pangeran Diponogoro) sedang diantara muridnya yang terkenal adalah Syech Nawawi Al-Bantani yang meninggal di makkah serta di makamkan di MA’LA. Buku karangannya masih tersimpan rapih di salah satu Universitas Negara Amerika.

R.H.M.Yoesoef atau BAENG YUSUF menetap di Purwakarta yang sekarang di sebur Kaum bersamaan di bukanya PURWAKARTA oleh Dalem Solawat Bupati Karawang. Rumah beliau adalah yang sekarang menjadi Mihrob Masjid Agung, sedangkan Pesantran atau tempat mengaji para santri bangunannya terletak di belakang Masjid Agung. Dan beliau wafat pada tahun 1854 M menurut keterangan dari kitab Tasyauf dan Fiqih sunda dan Makamnya di dalam bangunan tersebut.

SILSILAH KETURUNAN

Aria Wangsa Goparona (Sagala herang, Subang)
Dalem Cikundul/Aria Wiratanudatar (R.Jayalalana)
R.Aria Wira Manggala (Tarik kolot)
R.Aria Astra Manggala (Ciconde)
Dalem Sabirudin
Dalem Muhidin
R.Aria Djayanagara
R.H.M/Joesoef.

Sejarah Tatar Parahiangan

Sejarah Tatar Parahyangan

       Periode awal sampai Taruma Nagara.
Konon menurut wangsakerta pertama di tanah jawa adalah Salaka Nagara atau Rajatapura(Negri Perak),dengan pendiri aki Tirem(=argre : ptolemy),letaknya di teluk lada pandeglang sekitar tahun 150 M,Pemerintahan Salaka Nagara di pimpìn oleh raja-raja yang bergelar Dewawarman,tercatat bahwa gelar Dewawarman di turunkan selama 8 generasi(Dewawarman I-VIII).diperkirakan kejayaannya sampai tahun 362 M.selanjutnya penguasaan wilayah jawa(bag Barat)dilanjutkan oleh Taruma Nagara Salaka Nagara pun menjadi kerajaan kecil.Kerajaan Taruma Nagara tercatat dimulai sejak tahun 358 M,dengan raja pertama bernama Jayasingawarman,Jayasingawarman berasal dari Negri Salankayana di India,ia melarikan diri dari Negrinya yang diserang oleh raja Samudragupta dari kerajaan Magada,dia juga merupakan menantu Dewawarman VIII.pada pemerintahan raja Taruma nagara yang ke-3,cucu Jayasingawarman yaitu purnawarman(395-434 M),ibukota kerajaan di pindah ke kota baru dengan nama Suna Pura(kota suci)di sekitar sungai ciaruteun.inilah catatan sejarah pertama mengenai awal di gunakannya kata Sunda.Beliau juga merintahkan penggalian sungai gomati dan chandrabaga(bhagasasi/bekasi)sepanjang 6.114 tumbak(11km),selanjutnya pada masa suryawarman(535-561 M)yang merupakan cucu purnawarman,kekuasaan Taruma Nagara dilebarkan sampai kesebelah timur.untu dalam tahun 526 M,manikmaya,menantu suryawarman dari tirta kancana,di berikan kekuasaan untuk mendirikan kerajaan baru di kendan,sekarang terletak didærah nagreg(terletak antara bandung/garut),yang pada masa selanjutnya,cicit manikmaya yang bernama wretikandayun(612)memindahkan ibukota kendan ke kota baru yang bernama galuh(permata).Kota tersebut di apit 2 sungai yaitu citanduy dan cimuntur,kota tersebut sekarang bernama Desa Kamulyaan di ciamis,cerita terus berlanjut dan raja-raja terus silih berganti sampai dengan raja terakhir Taruma Nagara yaitu linggawarman,ia merupakan raja yang ke-12.Taruma yang memerintah sekitar 669 M,dalam penguasaan Taruma telah terdapat 48 kerajaan bawahan diantaranya adalah Sala Nagara,Galuh,Kendan,serta Sunda Sambawa.dikarenakan tidak mempunyai anak laki-laki maka kekuasaan linggawarman diturunkan kepada menantu pertamanya Tarus Bawa.sebenarnya dia memiliki 2 anak perempuan yang bernama manasih dan sobakancana,manasih menikah dengan Tarus Bawa pewaris kerajaan Sunda Sambawa,dan sobakancana menikah dengan Rapuntahyang Sri Jayanasa pendiri kerajaan Sriwijaya.Pada masa pemerintahan Tarus Bawa terjadi perselisihan antara 2 menantu linggawarman,akibat perselisihan ini Jayanasa/Sriwijaya menyerang Tarus Bawa/Taruma Nagara(wangsakerta),akibat serangan itu Taruma melemah sehingga Tarus Bawa kembali ke kerajaan asalnya Sunda Sambawa dengan membawa kekuasaan Taruma.Selanjutnya Tarua dia ubah menjadi Kerajaan Sunda.Sehingga dengan demikian dapat dikatakan bahwa raja Sunda pertama(sebagai kerajaan besar)adalah Tarus Bawa,penggantian nama Taruma menjadi Suna dijadikan momen oleh galuh/wretikandayun untuk menyatakan lepas dari Sunda/Taruma(670).Dengan alasan merasa sederajat dengan kerajaan Sunda(sama-sama kerajaan bawahan Taruma).
Wretikandayun cicit manikmaya,mengklaim wilayah kekuasaan Taruma sebelah timur dari kali cipamali sampai citarum,saat itu wretikandayun sudah berumur 78 tahun,sehingga dia sudah mengenal betul kondisi potitik Taruma,klain galuh tersebut berlangsung mulus,karena Tarus Bawa menghindari terjadinya peperangan,bahkan saat itu Tarus Bawa merupakan sahabat bratasena anak dari wretikandayun.Sehingga itulah akhir dari cerita Taruma Nagara yang melemah dan menjadi 2 kerajaan dengan sungai citarum sebagai batas,masa keemasan galuh setelah lepasnya galuh dari sunda.Tarus Bawa masih berkuasa lama diperkirakan berkuasa dari (669-723 M)Dia digantikan cucu menantunya yang bernama Rakean Jamri atau lebih dikenal dengan prbu Sanjaya Harisdharma.Adapun sang putra mahkota (anak Tarus Bawa)meninggal sebelum dinobatkan,menyebabkan Tarus Bawa digantikan oleh cucu perempuannya bernama Tejakancana yang bersuamikan Sanjaya ini.Sanjaya sendiri merupakan anak sanaha adik perempuan bratasena raja galuh saat itu,sementara itu digaluh,diceritakan bahwa wretikandayun yang bergelar maharaja suradharma jaya prakosa setidaknya memiliki 3 anak dari pohaci bunga mangle(manawati)yaitu;sempak waja(jatmika),jantaka dan mandiminyak(amara),Diantara anaknya yang menggantikan dirinya adalah anak bungsunya yang bernama mandiminyak.Dikarenakan anak tertuanya bernama sempak waja dan anak keduanya jantaka dianggap cacat jasmani selanjutnya mandiminyak digantikan oleh anak dari rababu yang bernama bratasena(sena)sebenarnya permesuari mandiminyak adalah dewi parwati yang menurunkan sanaha,dewi parwati adlah anak dari dewi maharani shima dari kerajaan kalingga(sebelum mataram kuno),namun kekuasaan sena tak berlangsung lama,ia di gulingkan oleh sepupunya,anak dari sempak waja yang bernama purbasora saat itu di bantu oleh raja indra prahasta dari sekitar dærah cirebon.

Sejarah Situ Gede Tasikmalaya

SEJARAH SITU GEDE DAN EYANG PRABUDILAYA

SITU GEDE
1
Purnama bersinar, menerangi alam Sumedang yang tengah lelap tertidur, negeri yang makmur, gemah ripah loh jinawi, kini seolah beristirahat menikmati hasil kerjanya selama sehari penuh, diantara kesunyian malam dan sinar purnama, masih terdengar kentungan dipukul orang, menandakan tidak semua warga terlelap, namun masih ada yang terjaga menjaga lingkungannya.
Namun di halaman belakang komplek istana kerajaan Sumedang, masih terdengar sesuatu yang agak asing ditelinga, lengkingan suara yang agak tertahan namun mantap mengandung tenaga, disertai desingan sesuatu yang membelah udaha, terdengar jelas dimalam yang telah larut itu, cahaya remang obor bambu, melengkapi sinar purnama yang menyinari seorang pemuda tegap tengah memperagakan ilmu kanuragan dengan gesit, cepat mantap dan bertenaga, itulah Prabu Adilaya, Raja Muda Sumedang yang tengah menempuh ujuan terakhir dari ilmu kanuragan yang dipelajarinya, sebagai seorang raja, tentu saja harus memiliki berbagai ilmu untuk menjaga diri dan menjaga masyarakatnya, disamping ilmu kenegaraan, harus pula dipelajari ilmu lain termasuk ilmu kanuragan dan bela diri.
Di bawah pohon yang agak rindang, duduk seorang pria tua berjanggut panjang, mengenakan pakaian serba hitam kepalanya yang berambut putih diikat dengan ikat kepala hitam, kakek ini dengan cermat memperhatikan Sang Prabu yang tengah berlatih, kadang-kadang kepalanya mangut-mangut, atau senyum kepuasan tersungging di bibirnya yang keriput.
“Cukup Raden!” tiba-tiba si Kakek berseru
Prabu Adilaya berhenti, kemudian berbalik menghadap gurunya dengan gerakan menyembah,
“Terimakasih, Eyang Guru”
“Sekarang duduklah, Raden”
Prabu Adilaya, duduk bersila, kedua tanganya berada di atas pangkuannya
“Tenang, Raden”
Kakek yang dipanggil Eyang guru, melugas pedang yang berkilau mengkilap diterpa cahaya bulan, tiba-tiba pedang itu menebas punggung Sang Prabu, terdengar suara sesuatu yang patah dan terlempar, Eyang Guru berdiri tegak, memperhatikan pedang yang ternyata sudah patah terpotong dua, ada senyum puas tersungging dari bibir keriput Eyang Guru, kemudian, dengan langkah ringan menghampiri muridnya yang duduk bersila, tangannya terjulur kedepan, seraya berkata dengan mengulum senyum “ Lulus Raden”
Ketika ayam berkokok dan matahari menyeruak embun pagi, Guru dan murid tengah bercengkrama, di serambi samping istana, disuguhi makanan dan minuman hangat,
“ Raden, semua ilmu yang kumiliki, sudah kuajarkan semua kepadamu, dan Raden sudah menyerapnya dengan baik, namun bagi seorang Raja, kiranya ilmu yang kuajarkan belum cukup, harus disertai dengan ilmu bathin terutama ilmu agama” kata Eyang Guru sambil menatap muridnya”
“Saya pun merasakannya, Eyang, ilmu kanuragan yang Eyang ajarkan masih perlu ditambah dengan ilmu agama, sehingga, dalam menjalankan roda pemerintahan, saya memiliki dasar yang kuat dan dapat bertindak bijaksana”
Prabu Adilaya, menjawab dengan penuh harap,
“Kemana lagi saya harus berguru, Eyang?
Sang Prabu yang muda dan haus ilmu tampak sangat berkeinginan untuk belajar lebih banyak.
“Pergilah ke Mataram, bergurulah kepada KYAI SYEH JIWA RAGA, disana Raden akan mendapatkan ilmu-ilmu bathin dan ilmu agama”
“Terimakasih Eyang guru”
Sang prabu mencium tangan gurunya, orang tua yang sudah berambut putih ini merapatkan kedua tangannya di dada, seraya menghaturkan sembah, dia berkata
“Saya mohon pamit, Raden”
“Silahkan, terimakasih, Eyang”
“Sampurasun”
“Rampes”.
**
Siang itu Prabu Adilaya menjalankan tugasnya sehar-hari sebagai seorang Raja, disaat tertentu selalu terngiang perkataan gurunya, bahwa ilmu yang kini dimilikinya belumlah cukup untuk seorang Raja, namun harus ditambah dengan ilmu bathin terutama ilmu agama, harus ke Mataram untuk mencarinya, seketika sang prabu merasakan kekosongan, ternyata benar kata pepatah, batang padi semakin berisi semakin merunduk, semakin banyak ilmu seseorang, semakin merasakan kekurangan, semakin haus akan ilmu, namun keinginan untuk menuntut ilmu berarti harus meninggalkan Sumedang dan berbulan-bulan di Mataram, sementara tampuk pemerintahan saat ini sang Prabu-lah yang bertanggung jawab. Tetapi kebingunan itu tidak lama, Prabu Adilaya teringat, bahwa selalu ada orang yang mampu memberi jalan keluar dari semua persoalan yaitu ibunya. Sang prabu pun turun dari singgasananya dan berjalan keluar keprabon, melewati taman sari, tibalah ke kaputren tempat ibunya tinggal.
“Saya haturkan sembah, Kang Jeng Ibu”
“Silahkan Raden, Pangeranku, wajahmu tampak murung, utarakanlah pada Ibu, Raden”
Prabu Adilaya manarik nafas dalam-dalam, begitu bijaksana Ibunya sehingga dapat melihat kemurungan diwajah anaknya.
Dengan lemah lembut Prabu Adilaya menyampaikan maksudnya untuk berguru ke Mataram sebagai bekal untuk dapat memerintah secara adil dan bijaksana, disampaikannya pula bahwa menuntut ilmu agama dan ilmu lainya akan memakan waktu berbulan-bulan, mungkin bertahun-tahun sementara kerabuan di Sumedang harus ditinggalkan, tanpa diduga, Sang Ibu terseyum mendengar keluhan putranya,
“Bagi seorang raja, sangatlah perlu memiliki ilmu agama dan ilmu lainnya, ibu bersyukur kepada Yang Maha Kuasa dan bangga ternyata Kangjeng Rama tidak salah pilih menobatkan, sebagai Raja, sudah ada sifat kearifan seorang raja dalam dirimu, keinginanmu untuk menuntut ilmu, merupakan keinginan yang luhur, pergilah anaku, tugasmu sehari-hari akan dilaksanakan oleh adikmu”
Wajah Prabu Adilaya kembali berseri-seri seolah medapat kejatuhan bintang dari langit, sejenak ibunya melanjutkan :
“Bawalah serta istrimu dan pelayanmu yang setia”
Prabu Adilaya pun mohon pamit untuk melakukan persiapan keberangkatannya.


II

Seolah berlomba dengan ayam berkokok, Prabu Adilaya didampingi istrinya Nyai Raden Dewi Kondang Hapa dan sepasang pelayannya Sagolong dan Silihwati berangkat dari tanah Sumedang kearah timur menyongsong matahari pagi, melalui padang terjal berbukit, mengarungi kelebatan hutan, menuruni lembah dan mendaki bukit, banyak malam harus dilewatkan dengan tidur beralas daun kering berkelambu birunya langit, akhirnya sampai jugalah ke Mataram ke tempat dimana Kyai Jiwa Raga bermukim.
Kyai dengan wajah cerah menyambutnya, memberikan tempat yang terbaik bagi sang Prabu dan kedua pelayannya, ketika menyampaikan maksudnya untuk berguru, Kyai dengan senang hati menerimanya sebagai muridnya.
Keinginan sang Prabu yang sangat kuat untuk mempelajari Ilmu Agama menyebabkan dia cepat menyerap ilmu yang diajarkan, banyak kitab kuning yang dapat dihapal dalam waktu singkat, banyak pula kitab-kitab lainnya yang masih harus dibacanya dengan tekun dan ulet, kesungguhannya dalam belajar dan kemampuannya yang luar biasa tidak luput dari perhatian Kyai yang mengajarnya yang selalu terkagum-kagum dengan semangat belajar yang sangat tinggi.
Tak terasa sudah empat purnama berlalu Prabu Adilaya tak sempat banyak berpikir dan berbuat lain, waktu sesaat pun dimanfaatkan untuk menyerap pelajaran yang diberikan oleh Kyai Jiwa Raga, gurunya. banyak hal keduniawian terlupakan termasuk istrinya yang selalu mendampinginya sejak dari Sumedang.
Suatu saat, Kyai Jiwa Raga berbicara kepada muridnya:
“Raden, apa yang saya miliki, sudah saya ajarkan kepadamu, namun mempelajari islam tidak cukup dari satu sumber, Raden harus berguru kepada yang lain”
Prabu Adilaya menganguk-ngangguk seraya berkata :
“Setiap saat saya menemukan persoalan yang harus dipecahkan dengan bantuan ajaran Islam, ijinkan saya untuk menambah ilmu yang Kyai berikan, dan mohon petunjuk harus kepada siapa saya berguru ?.
“Pergilah ke tatar Sukapura, banyak Kyai yang berilmu luhung disana, tetapi sebelum pergi, sudikah Raden membawa putri saya Dewi Cahya Karembong dalam perjalanan Raden” Kyai Jiwa Raga menatap muridnya dengan penuh harap.
“Dengan senang hati Kyai”
“Seandainya Raden berkenan, jadikanlah putri saya sebagai istri raden yang kedua”
Prabu Adilaya agak kaget mendengar perkataan gurunya, sebagai murid dia harus patuh kepada Guru, namun dia sudah beristri dan sampai saat ini terlupakan karena terlalu tekun dalam mempelajari Agama Islam, tetapi ketaatan kepada gurunya, menyebabkan Prabu Adilaya tidak kuasa menolak tawaran itu,
“Baiklah, Kyai, saya akan menjadikan Dewi Cahya Karembong sebagai istri kedua”
“Terimakasih Raden”
Tidak berselang lama, dilakukanlah upacara akad nikah antara Prabu Adilaya dengan Dewi Cahya Karembong, putri Kyai Jiwa raga yang cantik jelita, upacara sederhana yang dihadiri oleh seluruh murid Kyai Jiwa Raga, sekaligus menandai bahwa Prabu Adilaya merupakan murid Kyai Jiwa Raga yang paling pandai, yang dinikahkan dengan putri Kyai, tradisi ini bertahan sampai sekarang, santri yang paling pandai dari sebuah pesantren akan dinikahkan dengan putri ajengan (Kyai).
Keinginan untuk belajar Ilmu Agama Islam Prabu Adilaya tetap membara, sang prabu berpamitan kepada Kyai, untuk melakukan perjalanan ke Tatar Sukapura mencari Guru yang dapat mengajarkan Agama islam lebih dalam dan lebih banyak, Kyai pun memanjatkan do’a untuk keberangkatan menantu dan putrinya yang disertai Raden Dewi Kondang Hapa istri pertama Prabu Adilaya

III

Perjalanan dari Mataram menuju Tatar Sukapura bukanlah perjalanan dekat, hampir sama dengan perjalanan dari tatar Sumedang ke Mataram, kali ini perjalanan lebih menggembirakan karena anggota rombongan bertambah menjadi enam orang dengan hadirnya Dewi Cahya Karembong, sepanjang perjalanan Prabu Adilaya dengan kedua istrinya selalu kelihatan ceria, untuk membuang kejenuhan sepanjang perjalanan Prabu Adilaya selalu bercerita yang disarikannya dari ceritera sempalan Tarich Islam, tentang kebijakan Rosululloh dalam menyebarkan Agama islam, kesederhanaan Rosul, keberaniannya dalam menegakkan agama Islam terutama kebesaran jiwa Rosul dalam menghadapi musuhnya yang belum beragama Islam, apabila malam menjelang mereka beristirahat melepas lelah, tetapi Prabu Adilaya selalu membaca ulang kitab-kitabnya yang diberikan oleh Kyai Jiwa Raga, sampai kedua istrinya tertidur pulas, sang Prabu masih membaca kitabnya dengan teliti, barulah ketika ayam berkokok satu kali, setelah sembahyang tahajud, sang Prabu merebahkan tubuhnya diantara kedua istrinya, ketiganya tertidur berkelambu langit cerah berbintang.
Banyak malam telah dilewati, perjalanan pun semakin jauh, Prabu Adilaya tetap dengan kebiasaannya menekuni kitab-kitab ajaran islam sampai larut malam, kebiasaan suami istri terlupakan begitu saja karena bagi Prabu Adilaya membaca kitab jauh lebih mengasikan, sampai suatu saat, ketika memasuki tatar Galuh, Dewi Cahya Karembong merasakan sesuatu yang hilang dari perannya sebagai seorang istri, ada perasaan mungkin dirinya kurang menarik perhatian suaminya, dibanding Dewi Kondang Hapa istri pertama Prabu Adilaya, perasaan itu mengundang tanda tanya besar dalam diri Dewi Cahya Karembong, sampai suatu saat takala Prabu Adilaya sedang berwudhu dan tidak ada di tengah-tengah kedua istrinya, Dewi Cahya Karembong bertanya kepada Dewi kondang Hapa:
“ Maaf Aceuk*, sejak saya dinikahkan sampai saat ini saya belum pernah melakukan kewajiban saya sebagai seorang istri, kadang-kadang saya merasa disia-siakan dan diabaikan, apakah Aceuk merasakan hal yang sama atau kalau sama Aceuk biasa-biasa saja?”
Dewi Kondang Hapa merenung sejenak, pelan sekali dia menjawab:
“Aceuk pun merasakan hal yang sama, bahkan kalau itu suatu penderitaan, penderitaan Aceuk lebih lama dari yang Nyai rasakan, karena Aceuk menikah sudah hampir setahun ini, tapi belum diperlakukan sebagai istri”
“Sungguhkan ?” Dewi Cahya Karembong terperanjat mendengarnya
“Benar Nyai, sejak menikah Aceuk belum merasakannya” kata Dewi Kondang Hapa datar, seolah kepada dirinya sendiri
“Apakah mungkin kakang Prabu memiliki kelainan……………?”
“Tidak, Nyai, Kakang Prabu seorang laki-laki sejati” Dewi Kondang Hapa menjawab dengan tegas.
Obrolan kedua istri itu terhenti saat Prabu Adilaya menghampirinya, tetapi dalam bahasan yang sama mereka mengobrol pada saat-saat senggang, tetapi semakin lama, semakin mereka rasakan ada ketimpangan dalam kehidupan perkawinan mereka, mereka merasakan kehampaan dan kesepian, padahal suami yang mereka cintai tidur berdampingan tiap malam, mereka juga merasakan jarak yang makin lebar, padahal setiap saat hampir tidak pernah jauh terpisah. Ketika melihat burung berkasihan dalam perjalanan yang mereka lewati merekapun merasakan lebih hina dari seekor burung.
Suatu saat, ketika ada waktu senggang yang cukup panjang, Dewi Kondang Hapa bertanya :
“Aceuk, Kakang Prabu hendak mencari guru baru?”
“Betul, kalau Kakang Prabu bermaksud untuk berguru lagi, berarti kita semakin tersia-siakan”
“Seandainya Kakang Prabu punya Guru baru dan menjadi murid paling pandai, tentu akan dinikahkan dengan putri gurunya lagi” berkata Dewi Cahya Karembong sambil memandang kebiruan langit, seolah hanya untuk didengar oleh dirinya sendiri.
“Mungkin penderitaan kita akan semakin panjang, disamping menunggu kakang Prabu selesai berguru, juga akan ada istri baru”
Dialog kedua istri yang dilanda sepi berlangsung semakin hangat dan panas, secara bertahap munculnya niat yang kurang baik, entah siapa yang memulai, dari niat itu dikembangkan menjadi sebuah rencana, tanpa disadari Dewi Kondang Hapa menbuka buntelan berisi sebuah keris pusaka yang diwariskan dari orang tuanya, demikian pula Dewi Cahya Karembong melakukan hal yang sama.
Malam harinya pada saat Prabu Adilaya mulai merebahkan diri ditengah kedua istrinya dirasakan sangat berat matanya, sebagaimana biasa sebelum tidur, dipanjatkan doa kepada Allah SWT untuk memohon ampunan dan karuania Nya, Sang Prabu memejamkan mata sambil menyungging senyum, beberapa saat kemudian, kedua istrinya terbangun, diambilnya pusaka masing-masing, dihunusnya pusaka itu dan diangkat dengan kedua tangan diatas dada Prabu Adilaya yang tengah tertidur pulas, pada saat yang hampir bersamaan, dengan keras dihujamkan pusaka itu ke dada Prabu Adilaya, tidak ada jeritan atau lenguh kesakitan, hanya terdengar sebutan asma Allah, bersamaan dengan itu, Prabu Adilaya menghembuskan nafasnya yang penghabisan, darah merahpun memancar dari dada Prabu Adilaya membasahi pakaian dan sedikit demi sedikit membasahi tanah dimana tubuh sang Prabu terbujur, tanah sekitar tubuh itu berubah warna menjadi merah, demikian pula air tanah yang keluar sekitar tubuh sang Prabu warnanya kemerahan, sejak saat itu tempat dimana sang prabu dibunuh dinamakan CIBEUREUM ( beureum = merah)
Burung-burung malam seolah berhenti berkicau, langit cerah mendadak mendung, pucuk-pucuk pohon seolah turut bersedih dengan dihilangkannya nyawa seorang pangeran yang sedang menuntut ilmu dibidang keagamaan, tinggalah dua istri yang kebingungan disertai rasa penyesalan yang mendalam,mereka duduk termenung, sementara kedua pelayannya yang setia Sagolong dan Silihwati masih pulas tertidur, dengan bisik-bisik kedua istri itu berembuk untuk mengubur jenazah di tempat yang jauh dan tersembunyi agar tidak ditemukan utusan dari Sumedang.
Akhirnya diputuskan untuk menggotong jenazah yang dimasukan kedalam kain sarung dan digotong dengan sepotong kayu, mereka berangkat kearah barat, sementara kedua pelayannya mengawasi dari kejauhan dengan terheran-heran tanpa bisa bertanya, ketika sampai di tanah datar yang luas., mereka bermaksud untuk mengubur jenazah disana, namun setelah dipikirkan lagi, ternyata ditempat itu akan mudah ditemukan, maka perjalanan pun dilanjutkan menelusuri anak sungai kearah hulu , disuatu tempat kayu yang digunakan untuk menggotong mayat Prabu Adilaya patah, Dewi Cahya Karembong mengambil sebatang kayu pendek dan berusaha menyambung kayu penggotong, tempat bekas menyambung kayu tersebut sampai saat ini dinamakan SAMBONG, perjalanan pun dilanjutkan beberapa kali kayu penggotong patah dan disambung sampai pada suatu saat kedua istri itu merasa bingung karena kayu penggotong ternyata selalu patah sekalipun sudah diganti akhirnya Dewi Kondang hapa mencoba mengganti penggotong yang baru dan melumuri kayu tersebut dengan tanah ternyata kayu tersebut tidak lagi patah, tempat bekas melumuri penggotong dengan tanah tersebut dinamakan MANGKUBUMI (= mengangkat tanah)
Karena belum menemukan tempat yang tepat untuk mengubur jenazah, kedua istri Prabu Adilaya berbelok ke utara, mendaki bukit-bukit kecil akhirnya sampai ke daerah rawa-rawa, dari kejauhan terlihat ada tanah yang tidak digenangi air, mereka menuju kesana, ditempat itu Dewi Cahya Karembong memerintahjkan kedua pelayannya untuk menggali lubang, pada saat kedua pelayan itu menggali, Dewi Kondang Hapa berbisik kepada Dewi Cahya Karembong, bahwa seandainya kedua pelayan itu dibiarkan hidup tentu akan melaporkan kepada Raja Sumedang bahwa Prabu Adilaya dibunuh kedua istrinya, kedua istri sepakat bahwa kedua pelayan itu juga harus dihabisi untuk menjaga rahasiah mereka, maka sebelum lubang kubur selesai digali, kedua pelayan itu, Sagolong dan Silihwati dibunuh, dan mayatnya dikuburkan bersama-sama dengan jenazah Prabu Adilaya.
Sebelum matahari tepat diatas kepala penguburan ketiga jenazah itu telah selesai, mereka meninggalkan makam tanpa nisan itu, ada rasa penyesalan tak terkira pada diri mereka, Dewi Kondang Hapa berkata :
“Seandainya Aceuk kembali ke Sumedang tentu Aceuk akan dihukum, atau setidaknya banyak orang bertanya kemana Prabu Adilaya, kiranya akan lebih baik kalau Aceuk tinggal di daerah ini biar dapat menjaga makam Kakang Prabu”
“Baiklah, Nyai akan pulang ke Mataram, namun apabila ada sebuah padepokan atau pasantren, Nyai akan singgah dan berguru, semoga Allah SWT menerima tobat kita” menjawab Dewi Cahya Karembong dengan linangan air mata.
Kedua bekas istri Prabu Adilaya berpelukan, mereka memilih jalan masing-masing, Dewi Cahya Karembong memilih suatu tempat di Gunung Goong dan meninggal di sana.

IV
Semenjak di tinggalkan oleh Prabu Adilaya Dayeuh Sumedang seolah merasakan sesuatu yang hilang, raja yang bijaksana itu sementara pergi meninggalkan Sumedang untuk berguru, namun banyak purnama telah berlalu dan tahun pun berganti, tidak ada kabar berita, Ibu Suri kerajaan Sumnedang tentu saja merasa cemas dan gelisah, akhirnya diputuskan untuk mengutus putra keduanya untuk menyusulnya ke Mataram.
Singkat cerita, sampailah di mataram, tetapi ternyata yang disusul sudah pergi kea rah Tatar Sukapura, Adik Prabu Adilaya menyusul kearah sana, tetapi karena tidak adanya keterangan mengenai kakaknya, tempat disemayamkan Prabu Adilaya terlewat, karena tempatnya memang agak tersebunyi, sang adik malah sampai kesuatu daerah di pinggir sungai yang ramai oleh orang berlalu lalang, ternyata disana ada sebuah saembara, siapa yang dapat mengalahkan seekor singa dengan tangan kosong akan dinikahkan kepada putri penguasa daerah yang cantik, banyak pemuda ikut serta tetapi tidak mampu mengalahkan singa tersebut, Pangeran Sumedang itu merasa tertarik, akhirnya dia turun ke gelanggang dan bisa mengalahkan singa tersebut sampai luka parah, sampai saat ini tempat itu dinamakan SINGAPARNA (=singa yang luka parah)
Pangeran Sumedang itu mendapatkan putri cantik dan diserahi sebuah daerah untuk dibuka, di daerah itu dibangun sebuah kota yang mirip dengan ibu kota kerajaan dan menamakan daerah itu dengan nama MANGUNREJA. Berbagai kesibukan pangeran Sumedang itu menyebabkan niatnya untuk pulang terlupakan, sehingga Ibunya di Sumedang tetap mengharap kabar baik yang disusul ataupun yang menyusul juga belum kembali, akhirnya diputuskan untuk berangkat sendiri menelusuri jejak Prabu Adilaya.
Sesampainya di Mataram ternyata mengecewakan, Prabu Adilaya bersama istri dan kedua pengawalnya sudah berangkat ke tatar Pasundan, tanpa berpikir panjang Sang Ibu berangkat ke Tatar Pasundan, sepanjang perjalanan apabila melewati malam beliau selalu memohon kepada Allah SWT Tuhan Yang Maha Kuasa untuk memperoleh petunjuk dimana kedua anaknya berada, bila siang perjalananpun dilanjutkan, meleati tanah berpasir dan berbukit, akhirnya sampai ke daerah yang berawa-rawa, dari pinggir rawa, sang Ibu melihat sebuah cahaya, akhirnya perjalanan dilanjutkan dengan menyebrangi rawa dan sampai ke sebuah nusa.
Ternyata cahaya tadi bersumber dari gundukan tanah merah, seolah petunjuk bahwa ada sasuatu di sana, Sang Ibu menengadahkan tangan memohon petunjuk Yang Maha Kuasa, dan diperoleh petunjuk bahwa disanalah dikuburkan prabu Adilaya dan kedua pelayannya Sagolong dan Silihwati.
Tangispun tak tertahankan, airmata berurai deras menetes ke tengah gundukan tanah merah, putra sulungnya, pewaris tahta kerajaan Sumedang terkubur di sana. Doa pun dipanjatkan untuk melindungi makam putranya, maka air rawa itu bertambah naik beberapa meter dan makam Prabu Adilaya berada di pulau sebuah danau yang luas, ada bisikan kepada sang Ibu untuk menancapkan tongkat yang selama ini dibawanya, setelah tongkatnya ditancapkan ke tanah, seketika berubah menjadi pohon-pohonan rimbun yang meneduhi makam putranya.
Pada saat akan pulang dan menyebrangi rawa yang sudah berubah menjadi danau, ada empat ekor ikan, sang Ibu menamakan ikan itu dengan nama si Gendam, si Kohkol, si genjreng dan si Layung, dengan tugas untuk menjaga makam dari tangan-tangan jahil yang mengganggunya.
Ketika bermaksud untuk pulang. Sang Ibu bertemu dengan dua orang penduduk setempat, beliau berpesan :
“ mugi aranjeun kersa titip anak kuring di pendem di eta nusa, jenengannana sembah dalem Prabu Adilaya, wangku ka prabonan di sumedang mugi kersa maliara anjeuna dinamian juru kunci ( kuncen ) jeung kami mere beja saha anu hoyong padu beres, nyekar ka anak kami oge anu palay naek pangkat atawa hayang boga gawe kadinya, agungna Allah cukang lantaranana sugan ti dinya.”

Semoga kalian bersedia untuk dititipi anak saya yang dimakamkan di pulau itu, namanya Sembah Dalem Prabu Adilaya, yang memegang tampu ke prabuan di Sumedang semoga kalian bersedia untuk memeliharanya, dan saya memberitahukan kepada siapapun yang berselisih ingin beres, atau naik pangkat juga ingin punya pekerjaan silahkan nyekar ke sana, agungnya kepada Allah SWT semoga sareatnya dari sana”
Setelah itu beliau pulang ke Sumedang.

Sejarah Panjalu

SEJARAH PANJALU

Panjalu berasal dari kata jalu (bhs. Sunda) yang berarti jantan, jago, maskulin, yang didahului dengan awalan pa (n). Kata panjalu berkonotasi dengan kata-kata: jagoan, jawara, pendekar, warrior (bhs. Inggeris: petarung, ahli olah perang), dan knight (bhs. Inggeris: kesatria, perwira).
Nama Panjalu mulai dikenal ketika wilayah itu berada dibawah pemerintahan Prabu Sanghyang Ranggagumilang; sebelumnya kawasan Panjalu lebih dikenal dengan sebutan Kabuyutan Sawal atau Kabuyutan Gunung Sawal. Istilah Kabuyutan identik dengan daerah Kabataraan yaitu daerah yang memiliki kewenangan keagamaan (Hindu) seperti Kabuyutan Galunggung atau Kabataraan Galunggung.
Kabuyutan adalah suatu tempat atau kawasan yang dianggap suci dan biasanya terletak di lokasi yang lebih tinggi dari daerah sekitarnya, biasanya di bekas daerah Kabuyutan juga ditemukan situs-situs megalitik (batu-batuan purba) peninggalan masa pra sejarah.

Kekuasaan Kabataraan (Tahta Suci)

Pendiri kerajaan Panjalu adalah Batara Tesnajati yang petilasannya terdapat di Karantenan Gunung Sawal. Mengingat gelar Batara yang disandangnya, maka kemungkinan besar pada awal berdirinya Panjalu adalah suatu daerah Kabataraan sama halnya dengan Kabataraan Galunggung yang didirikan oleh Batara Semplak Waja putera dari Sang Wretikandayun (670-702), pendiri Kerajaan Galuh.
Daerah Kabataraan adalah tahta suci yang lebih menitikberatkan pada bidang keagamaan atau spiritual, dengan demikian seorang Batara selain berperan sebagai Raja juga berperan sebagai Brahmana atau Resiguru. Seorang Batara di Kemaharajaan Sunda mempunyai kedudukan yang sangat penting karena ia mempunyai satu kekuasaan istimewa yaitu kekuasaan untuk mengabhiseka atau mentahbiskan atau menginisiasi penobatan seorang Maharaja yang naik tahta Sunda.
Menurut sumber sejarah Kerajaan Galunggung, para Batara yang pernah bertahta di Galunggung adalah Batara Semplak Waja, Batara Kuncung Putih, Batara Kawindu, Batara Wastuhayu, dan Batari Hyang. Berdasarkan keterangan Prasasti Geger Hanjuang, Batari Hyang dinobatkan sebagai penguasa Galunggung pada tanggal 21 Agustus 1111 M atau 13 Bhadrapada 1033 Caka. Kabataraan Galunggung adalah cikal bakal Kerajaan Galunggung yang dikemudian hari menjadi Kabupaten Sukapura (Tasikmalaya).
Besar kemungkinan setelah berakhirnya periode kabataraan di Galunggung itu kekuasaan kabataraan di Kemaharajaan Sunda dipegang oleh Batara Tesnajati dari Karantenan Gunung Sawal Panjalu. Adapun para batara yang pernah bertahta di Karantenan Gunung Sawal adalah Batara Tesnajati, Batara Layah dan Batara Karimun Putih. Pada masa kekuasaan Prabu Sanghyang Rangagumilang, putera Batara Karimun Putih, Panjalu berubah dari kabataraan menjadi sebuah daerah kerajaan.
Diperkirakan kekuasaan kabataraan Sunda kala itu dilanjutkan oleh Prabu Guru Aji Putih di Gunung Tembong Agung, Prabu Guru Aji Putih adalah seorang tokoh yang menjadi perintis Kerajaan Sumedan Larang. Prabu Guru Aji Putih digantikan oleh puteranya yang bernama Prabu Resi Tajimalela, menurut sumber sejarah Sumedang Larang, Prabu Resi Tajimalela hidup sejaman dengan Maharaja Sunda yang bernama Ragamulya Luhurprabawa (1340-1350). Prabu Resi Tajimalela digantikan oleh puteranya yang bernama Prabu Resi Lembu Agung, kemudian Prabu Resi Lembu Agung digantikan oleh adiknya yang bernama Prabu Gajah Agung yang berkedudukan di Ciguling. Dibawah pemerintahan Prabu Gajah Agung, Sumedang Larang bertransisi dari daerah kabataraan menjadi kerajaan.
Kekuasaan kabataraan kemudian dilanjutkan oleh Batara Gunung Picung yang menjadi cikal bakal Kerajaan Talaga (Majalengka). Batara Gunung Picung adalah putera Suryadewata, sedangkan Suryadewata adalah putera bungsu dari Maharaja Sunda yang bernama Ajiguna Linggawisesa (1333-1340), Batara Gunung Picung digantikan oleh puteranya yang bernama Pandita Prabu Darmasuci, sedangkan Pandita Prabu Darmasuci kemudian digantikan oleh puteranya yang bernama Begawan Garasiang. Begawan Garasiang digantikan oleh adiknya sebagai Raja Talaga yang bernama Sunan Talaga Manggung dan sejak itu Talaga menjadi sebuah kerajaan.

Hubungan dengan Kemaharajaan SundaPanjalu adalah salah satu kerajaan daerah yang termasuk dalam kekuasaan Kemaharajaan Sunda karena wilayah Kemaharajaan Sunda sejak masa Sanjaya Sang Harisdarma(723-732) sampai dengan Sri Baduga Maharaja (1482-1521) adalah seluruh Jawa Barat termasuk Provinsi Banten dan DKI Jakarta serta bagian barat Provinsi Jawa Tengah, yaitu mulai dari Ujung Kulon di sebelah barat sampai ke Sungai Cipamali (Kali Brebes) dan Sungai Ciserayu (Kali Serayu) di sebelah timur.

Menurut Naskah Wangsakerta, wilayah Kemaharajaan Sunda juga mencakup Provinsi Lampung sekarang sebagai akibat dari pernikahan antar penguasa daerah itu, salah satunya adalah Niskala Wastu Kancana (1371-1475) yang menikahi Rara Sarkati puteri penguasa Lampung, dan dari pernikahan itu melahirkan Sang Haliwungan yang naik tahta Pakwan (Sunda) sebagai Prabu Susuktunggal (1475-1482), sedangkan dari Mayangsari puteri sulung Hyang Bunisora (1357-1371), Niskala Watu Kancana berputera Ningrat Kancana yang naik tahta Kawali (Galuh) sebagai Prabu Dewa Niskala (1475-1482).
Lokasi Kerajaan Panjalu yang berbatasan langsung dengan Kawali dan Galuh juga menunjukkan keterkaitan yang erat dengan Kemaharajaan Sunda karena menurut Ekadjati (93:75) ada empat -kawasan yang pernah menjadi ibukota Sunda yaitu: Galuh, Parahajyan Sunda, Kawali, dan Pakwan Pajajaran.
Kerajaan-kerajaan lain yang menjadi bagian dari Kemaharajaan Sunda adalah: Cirebon Larang, Cirebon Girang, Sindangbarang, Sukapura, Kidanglamatan, Galuh, Astuna Tajeknasing, Sumedang Larang, Ujung Muhara, Ajong Kidul, Kamuning Gading, Pancakaki, Tanjung Singguru, Nusa Kalapa, Banten Girang dan Ujung Kulon (Hageman,1967:209). Selain itu Sunda juga memiliki daerah-daerah pelabuhan yang dikepalai oleh seorang Syahbandar yaitu Bantam (Banten), Pontang (Puntang), Chegujde (Cigede), Tanggerang, Kalapa, dan Chimanuk (Cimanuk) (Armando Cortesao, 1944:196).
Kaitan lain yang menarik antara Kemaharajaan Sunda dengan Kerajaan Panjalu adalah bahwa berdasarkan catatan sejarah Sunda, Hyang Bunisora digantikan oleh keponakan sekaligus menantunya yaitu Niskala Wastu Kancana yang setelah mangkat dipusarakan di Nusa Larang, sementara menurut Babad Panjalu tokoh yang dipusarakan di Nusa Larang adalah Prabu Rahyang Kancana putera dari Prabu Sanghyang Borosngora.
Sementara itu sumber lain dari luar mengenai kaitan Panjalu dengan Sunda yakni dari Wawacan Sajarah Galuh memapaparkan bahwa setelah runtuhnya Pajajaran, maka putera-puteri raja dan rakyat Pajajaran itu melarikan diri ke Panjalu, Kawali, dan Kuningan.

Tentang Kadipaten Donan

CeritaKadipaten Donan
Jika cerita tentang Kerajaan Nusatembini berasal dari masa Hindu Budha, maka cerita tentang Kadipaten Donan diperkirakan pada periode awal perkembangan Islam di Tanah Jawa. Donan tidak berlokasi di dekat  pantai selatan Cilacap, tetapi di daratan bagian utara, sekarang masuk sekitar Kota Cilacap.
Dalam cerita itu dikatakan bahwa Donan pada mulanya merupakan daerah hutan. Daerah itu mulai dibuka menjadi daerah pemukiman migrasi orang-orang Banyumas. Salah satu kelompok pendatang adalah rombongan Raden Ronggosengoro utusan dari Adipati Mrapat, seorang menantu dari Adipati Wirasaba. Raden Songgosengoro beserta rombongannya akhirnya menetap di wilayah itu. Ia pandai memimpin rakyat dengan mengubah daerah Donan yang semula sepi menjadi pemukiman yang ramai. Ronggosengoro kemudian diangkat menjadi Adipati di Donan oleh Adipati Wirasaba.
Di bawah kepemimpinan Adipati Ronggosengoro daerah Donan secara berangsur-angsur berubah menjadi daerah yang ramai dan makmur. Penduduknya hidup dalam kecukupan, tidak kekurangan sandang maupun pangan. Keamanan terjamin sehingga penduduk tidak merasa cemas tinggal di wilayah Donan.
Kondisi Donan yang aman dan tenteram menjadi terusik ketika ada gangguan makhluk aneh ke wilayah Donan. Gangguan itu berupa seekor burung raksasa yang oleh orang setempat disebutnya sebagai ”Garuda Beri”. Burung raksasa ini konon sering menerkam hewan-hewan milik penduduk Donan. Bahkan juga menerkam manusia yang berusaha mempertahankan binatang kesayangannya yang hendak diterkam oleh si burung  raksasa tersebut. Burung raksasa itu bersarang di Pulau Nusakambangan. Untuk mengatasi persoalan itu sang adipati berusaha mengerahkan segala kekuatan rakyatnya untuk membunuh binatang tersebut, tetapi selalu gagal.
Kegagalan menangkap binatang yang meresahkan masyarakat Donan tersebut mengusik sang adipati untuk mencari cara lain. Berkat petunjuk dari ahli nujumnya yang mengatakan bahwa burung tersebut dapat dimusnahkan dengan pusaka Kesultanan Demak, maka ia menghadap ke Kesultanan Demak untuk meminjam pusaka Demak yang bernama Kyai Tilam Upih. Permintaan sang adipati meminjam pusaka Demak tersebut ternyata dikabulkan oleh Sultan Demak. Sayang sekali setelah pusaka itu berhasil dipinjam, namun tidak seorang pun yang mampu menggunakannya dengan baik  untuk membunuh Garuda Beri.
Oleh karena selalu gagal dalam memusnahkan binatang berbahaya itu, diceritakan bahwa Adipati Donan menggelar sayembara. Dalam sayembara tersebut sang Adipati menjanjikan hadiah putrinya bagi siapapun yang berhasil menangkap dan membunuh Garuda Beri tersebut.
Sayembara itu ternyata menarik perhatian para Adipati Anom di daerah lain. Mereka berdatangan untuk menunjukkan kesaktiannya dalam menangkap binatang berbahaya tersebut. Mereka berharap sekali dapat menangkap binantang itu karena hadiahnya yang cukup menggiurkan, seorang putri yang cantik jelita. Akan tetapi ternyata para adipati tersebut tak satupun yang berhasil menaklukan garuda Beri. Para petarung menjadi takut dan lari terbirit-birit akibat serangan ganas dari binatang siluman tersebut. Sebagian dari mereka mengalami cedera, dan sebagian lagi mengurungkan niatnya mengikuti sayembara.
Dengan kegagalan para Adipati Anom dalam mengikuti sayembara menangkap Garuda Beri, maka sang Adipati Donan menjadi putus harapan. Sang Adipati  selalu merenung untuk mencari cara bagaimana mengalahkan binatang yang meresahkan  rakyat Donan tersebut. Dalam suasana kesedihan tersebut datanglah seorang pemuda dengan wajah yang tampan dan halus perangainya. Pemuda itu adalah seorang perjaka ”Santri Undig” yang disebut pula sebagai Bagus Santri. Di hadapan Sang Adipati Donan, ia menyampaikan niatnya untuk mengabdikan diri di Kadipaten Donan, ia akan bekerja apa saja demi Donan dan akan melaksanakan titah baginda dengan penuh kepatuhan. Sang Adipati yang mendengar permohonan Bagus Snatri tersebut menyatakan tidak keberatan, bahkan menerimanya dengan senang hati dengan syarat ia sanggup membunuh binatang Garuda Beri yang telah meresahkan rakyatnya. Meskipun Bagus Santri mengetahui bahwa syaratnya cukup berat, namun tekadnya yang bulat membuat menerima tawaran Sang Adipati Donan tersebut.
Sesungguhnya Bagus Santri adalah seorang utusan dari Demak. Ia diutus Sultan demak untuk mengambil kembali pusaka Demak yang cukup ampuh, ”Cis Tilam upih” yang sudah lama tidak ada di istana. Dengan diterima menjadi hamba Adipati Donan dan berhasil menangkap Garuda Beri, maka ia berharap pusaka Demak tersebut dapat diambil kembali.
Santri Undig tidak serta merta menangkap Garuda Beri. Untuk sementara waktu ia harus tinggal di Kadipaten Donan untuk mempelajari situasi dan kondisi bahaya tersebut. Setelah beberapa waktu tinggal di Donan, ia menghadap sang Adipati untuk menyampaikan uneg-unegnya. Pertama, sebelum membunuh Garuda Beri, ia terlebih dahulu meminta dibuatkan ”lubang yang dalamnya setinggi manusia”. Kedua, ia  meminta agar disediakan kain kain putih selebar hasta. Ketiga, ia diperkenankan meminjam pusaka Cis Tilam Upih. Kecuali permintaan ketiga, permintaan Bagus Snatri segera dikabulkan oleh sang adipati. Sementara itu permintaan ketiga baru bisa dikabulkan setelah ia berkali-kali meyakinkan sang adipati bahawa burung tersebut baru dapat dibunuh dengan Cis Tilam Upih.
Dengan dikabulkannya semua permintaan, Bagus Santri kemudian mempersiapkan untuk menangkap Garuda Beri. Setelah perlengkapan yang diperlukan tersedia, Bagus Santri mengambil air wudhu dan sholat sembari berdoa agar dikabulkan oleh Allah SWT  dalam melaksanakan tugas berat tersebut. Dengan diniati memberantas kejahatan dan kekejaman, maka Bagus Santri memiliki motivasi yang kuat untuk membunuh Garuda Beri. Setelah bersembahyang dan membaca doa selamat, santri Undig mengenakan kain putih pemberian Adipati Donan. Kain putih itu digunakan untuk membungkus dirinya hingga tidak kelihatan badannya dan membentuk gumpalan putih. Dengan mengenakanpakaian itu, maka tidak tampak manusian jika dipandang dari jarak jauh. Dari  kejauhan lebih mirip sapi dengan kulit putih. Berpakain seperti itu merupakan taktik Bagus Santri agar Garuda Beri yang melihat dari angkasa mengira benda putih yang terlihat adalah sapi dengan begitu garuda Beri akan segera menerkamnya. Dalam posisi seperti itu ia menuju ke tempat terbuka tempat dibangunnya sebuah pondok bertiang tinggi. Tidak jauh dari lokasi itu juga terdapat sebuah lubang setinggi manusia yang digunakan sebagai tempat untuk melawan Garuda Beri.
Peristiwa akan adanya pertarungan antara Bagus Santri dengan burung raksasa mengundang khalayak untuk melihatnya. Mereka melihat akan adanya pertarungan antara Garuda Beri dengan Bagus Santri. Para warga Donan dengan penuh ketegangan menantikan detik-detik terjadinya pertarungan tersebut.
Menunggu kedatangan makhluk aneh, Bgaus Santri bersila di panggok sambil bersemedi seraya memohon pertolongan Tuhan Yang Maha Kuasa agar dapat berhasil menjalankan misi sucinya, menumpas Garuda Beri. Tidak lama kemudian, dari arah selatan (P. Nusakambangan) terlihat bayangan hitam yang terlihat di angkasa. Bayangan itu makin mendekati posisi Bagus Santri. Penduduk yang melihatnya menjadi ketakutan dan bertanya-tanya dalam hati apa yang akan terjadi. Garuda Beri kemungkinan menganggap bahwa gumpalan warna putih itu adalah seekor sapi atau kambing besar yang bisa dimangsa. Garuda Beri beberapa kali mengitari dan mengamati benda putih itu, hingga rupanya ia berkeyakinan bahwa yang dihadapi adalah magsa yang lezat. Dengan sigap Garuda Beri itu kemudian menyambar mangsanya., Bagus Santri yang berbalut kain putih. Sementara itu Bagus Santri sudah siap untuk memberikan perlawanan. Ketika Garuda Beri menukik ke bawah, Bagus Snatri masuk ke dalam lubang tanah yang telah dipersiapkan itu. Ketika cakar Garuda Beri berdiri di atas lubang, Bagus Santri dengan sigap menancapkan pusaka Cis Tilam Upih pada bagian paha dari burung raksasa itu. Burung itu meraung kesakitan dan terbang kembali ke angkasa.
Garuda Beri yang telah mengalami luka di bagian pahanya itu sudah tidak memiliki keseimbangan dalam mengayunkan tubuhnya di angkasa. Binatang itu kemudian hinggap di pohon ketapang yang amat besar di tepian sebuah pantai Cilacap. Pohon raksasa itu tidak mampu menahan beban berat dari tubuh burung raksasa itu hingga rantingnya bengkok hampir menyentuh tanah. Garuda beri hendak terbang kembali, dan kerena tubuhnya telah terluka parah maka ia hanya dapat melayang-layang pada ketinggian yang rendah. Goresan luka akibat tusukan pusaka Demak iyu menyebabkan daya tahan tubuh Garuda Beri menurun tajam dan akhirnya jatuh ke tepian anak sungai yang tidak jauh dari Sungai Donan bagian timur.
Orang percaya bahwa cerita tentang matinya Burung Garuda Beri ini dibuktikan dengan peninggalan sejarah berupa suatu tempat di Cilacap yang dikenal dengan nama ”Grumbul Ketapang Dengklok”. Artinya pemukiman tempat pohon ketapang yang begkok akibat tidak ampu menahan beratnya Burung Garuda Beri yang sedang sakit menjelang ajalnya.
Keberhasilan Bagus Santri membunuh Garuda Beri disambut sukacita di seluruh Kadipaten Donan. Sukacita terlihat sekali diraut wajah sang Adipati yang kemudian menekati Bagus Santri dan memluknya erat-erat. Sementara itu rakyat bersorak-sorai mengelu-elukan kepahlawanan Bagus Santri. Kegembiraan rakyat Donan bisa dipahami karena dengan terbunuhnya garuda Beri, maka rasa mencekam yang mereka rasakan tiap hari telah hilang. Sementara itu Sang Adipati juga merasa telah berhasil menyelamatkan penduduknya dari marabahaya.
Adipati Donan tidak ingkat janji, ia segera menyerahkan putrinya nan cantik jelita kepada Bagus Santri, akan tetapi Bagus Santri tidak segera menerima hadiah putri tersebut. Bagus Santri justru menyerahkan putri tersebut untuk menjadi istri Adipati Bagong, seorang Adipati di Limbangan. Alasan Bagus Santri tidak menerima sang putri karena Bagus Snatri belum berkeinginan menikah dan masih senang berkelana menyebarkan agama Islam.
Bagus Santri yang cukup cerdik tersebut ternyata adalah Sunan Kalijaga. Ia mendapat tugas dari Sultan Demak untuk mencari dan mengambil kembali pusaka Demak Cis Tilam Upih. dengan demikian, cerita tentang peristiwa di Kadipaten Donan tersebut adalah dapat dianggap sebagai masa awal penyebaran Islam di telatah Cilacap.